saat anakan dimakan indukan sendiri

Banyak sekali kasus dalam penangkaran burung mengenai “hilangnya” telor atau indukan “makan” anak-anak sendiri. Atas kasus itu, muncul berbagai dugaan dan kesimpulan. Salah satu dugaan dan kesimpulan saya, akan saya sharing di sini.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Mohon hal ini diterima dengan kekritisan yang mendalam. Tetapi saya tidak siap berdebat. Ya, saya tidak siap sepenuhnya untuk mendiskusikan masalah ini karena apa yang saya sampaikan benar-benar berdasar analisis yang didasarkan pada feeling, “rasa” dan pemahaman saya yang cetek mengenai fenomena hidup yang penuh misteri.

induk murai mengerami telur
Benarkah burung makan anakan sendiri?

Apa yang disebut feeling dan rasa, sampai kapan pun, tidak bisa saya paksakan dengan argumen ilmiah apapun, kepada siapa pun.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Nah, mengapa burung “makan” anak sendiri? Berdasar pengalaman sejumlah breeder yang saya kumpulkan dan juga pengalaman sendiri, ada beberapa penyebab dan kesimpulan (yang bisa salah bisa benar) mengapa burung makan/membunuh anakan sendiri.

Pepatah yang mengatakan “bahkan harimau pun tak akan memakan anaknya sendiri”, saya kira itu adalah sebuah falsafah yang 100% benar. Sebuah filosofi mendasar dalam kehidupan di alam semesta ini. Kalau ada makhluk yang makan anaknya sendiri, maka itu adalah sebuah anomali yang pasti ada alasanya.

Kalau “makan anak sendiri” merupakan karakter bawaan, maka itu sangat bertolak belakang dengan naluri “mempertahankan keturunan” yang melekat pada semua makhluk hidup. Itu menyalahi kodrat yang dilekatkan oleh Tuhan YME pada kehidupan makhluk-Nya.

Bukan hanya lovebird (ini adalah salah satu kasus kasus yang dialami teman saya di di forum penangkaran burung paruh bengkok kicaumania.or.id), banyak sekali MB dan juga CR yang “makan” anakannya sendiri.

Baca juga  Mengatasi cucak jenggot yang mencabuti bulu akibat over birahi

Dalam banyak kasus, saya tidak bisa menjelaskan alasannya secara logis, tetapi saya hanya bisa menyimpulkan berdasar kejadian-kejaian yang sudah ada/pernah terjadi.

Burung membunuh anakan sendiri dipacu oleh “rasa kekhawatiran” si indukan bahwa nantinya tidak akan tersedia pakan yang cukup untuk anak-anak ketika indukan itu membesarkan anakan mereka.

Kejadiannya adalah seperti ini:

1. Ada pasangan CR yang “membunuh” anaknya begitu menetas bahkan juga mematuki hingga pecah telor yang sedang dierami karena selama masa mengeram si penangkar mengurangi jatah pemberian jangkrik secara drastis (dari 30 ekor per hari, menjadi 10 ekor karena kekhawatiran bahwa pejantannya menjadi birahi dan galak).

2. Ada pasangan MB yang membunuh anaknya begitu menetas karena selama pengeraman itu si penangkar menghilangkan jatah kroto dan mengurangi drastis jumlah jangkrik (dengan alasan yang sama dengan kasus CR). Artinya, begitu MB anakan menetas, MB indukan kebingungan mau memberi makan anaknya apa (meski secara logika, dia bisa memotong2 jangkrik untuk diberikan ke anaknya).

Dalam dua kasus itu, ketika setting pakan selama mengeram dan masa tidak mengeram tidak diubah drastis, ternyata semuanya berjalan normal. Tidak ada lagi indukan “makan” anaknya.

Dalam kasus LB kawan kita, indukan membunuh anak/makan telor sendiri, maka saya menduga (kuat) hal itu disebabkan ada perubahan/pengurangan menu (jenis maupun jumlah) pakan yang disengaja ataupun tidak oleh penangkar, yang menyebabkan burung khawatir akan masa depan anak-anaknya.

Oleh karena itu saya menyarankan kepada para penangkar, jangan mengubah menu pakan secara drastis ketika burung memasuki masa mengeram.

Cukupkan pakan dan pastikan lingkungan tenang.
Cukupkan pakan dan pastikan lingkungan tenang.
Burung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *