Murai Batu nyekukruk mungkinkh cacingan

MB saya liat bengkak dikaki ada lukanya, trus langkah yg hrs diambil gmn ni om? maklum masih baru dlm dunia burung kicau,mksh sblmé om.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Jawab:

Belikan antibiotik untuk burung. Bisa Trymezin-B (nama merk dagang, kandungan dalam nya preparat sulfa) atau juga Teramycin (merk dagang dari Oksitetrasiklin/ kandungan obat). Secara umum, fungsi keduanya sama, untuk membunuh kuman dan menyembuhkan infeksi penyakit.
Baca aturan pakainya.
Duto

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Salam knal om..Mau tanya,MB saya kakinya bengkak+badanya kurus+nafsu makan brkurang+nglungkruk gmn cara ngatasinya biar cpt kembali normal?

Baca juga  Kenari berak hijau dan penjodohan

Jawab:

Coba pada yang bengkak dilihat, apakah ada luka atau tidak. Kalau aa luka, kemungkinan besar ada infeksi. Kalau tidak ada luka, maka itu tanda-tanda cacingan.
Belikan obat cacing untuk burung. Beli di petshop atau kios pakan burung. Baca aturan pakai secara seksama. Pakai dua hari berturut-turut.
Setelah itu, beri multivitamin juga untuk burung. Pilih yang kandungan vitaminnya komplit. Beri selama 3 hari beturut-turut.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Kalau kesulitan memilih obat2an itu sebaiknya baca tulisan yang ini.
Salam,
Duto

Murai Batu Ganas

Salam kenal Om Duto,
Ada yg mau saya tanyakan dengan MB saya. MB saya ini pernah diposting di KM dengan nama ‘Ken Arok’ dg body agak kecil dan ekor yg cukup panjang, umur : 2-3 tahunan. Sy tertarik dg MB ini disamping ekornya jg pada saat digodain dengan kerodong dikebut2kan ke kandang keluar kicauannya. Menurut saya itu pertanda mentalnya lumayan. Suatu saat tanpa persiapan MB tsb saya coba dibawa kelomba dan hasilnya kurang memuaskan: mau kerja tetapi kurang ngotot dan terlalu galak (sering nempel di sangkar). Setelah itu gak pernah lg dibawa ke latber atau lomba krn setiap di trek dg 1 atau 2 MB selalu kurang ngotot dan terlalu galak.
Perawatan pemilik lama : jangkrik 2ekor-2ekor dr pagi sampai sore hingga 10 ekor.
Perawatan oleh saya : jangkrik p/s 5/5, kroto seminggu 2 kl kalau ada. Jemur hampir setiap hari sampai jam 9. Sekarang jangkrik saya kurangi p/s 4/3.
Pertanyaannya :
1. MB saya kurang birahi atau terlalu birahi ?
2. Kenapa ada kondisi yg kontradiktif : di satu sisi tidak ngotot, tp disisi lain terlalu galak ?
3. Apa sebaiknya yg harus saya lakukan agar MB mau ngotot tetapi tidak galak ?
4. Apakah MB saya masih ada harapan u moncer walaupun di latber ?
Tambahan : pernah sekali MB kelihatan agak ngotot (ngepley dan keluar tembakan) tp tidak terlalu lama.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Sebelumnya tks atas waktu dan jawaban Om Duto.

Salam,
GOEN

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Jawab:

Maaf karena ada kerusakan di tampilan blog maka jawabannya terlambat.
Sebenarnya soal MB giras pernah saya kupas pula di web kicaumania. Bedanya, yang saya kupas saat itu adalah soal “galaknya”. Sebab MB yang dibicakan tersebut kebetulan juga mau tampil ngotot.
Dengan demikian, kalau masalah ngototnya, sebenarnya mudah treatmennya, ya misalnya dengan menambah EF-nya. Celakanya, hal itu malah berdampak pada “kegalakan” sepak terjangnya yang selalu nabrak2 sangkar seakan mau menerjang lawan secara langsung.
Jadi, ada dilema untuk menghadapi MB Anda.
Dulu MB yang dibahas adalah milik kawan Ali Hendro. Dia mengeluh soal MBnya yang juga ganas. Sebelum saya menjelaskan masalah MB itu, saya mengatakan bahwa memang tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan burung peliharaan. Ada saja plus minusnya.
Begitu juga dengan Om Goen, sebaiknya tidak terlalu penasaran bahwa pada akhirnya, meski setelah melewati perjuangan berat “menyempurnakan” penampilan MB, tidak kunjung juga MB itu menunjukkan performa yang diharapkan.
Saya mengatakan hal ini memang berdasarkan pengalaman para kicaumania dan pengalaman sendiri. Saya yakin, Anda pasti sudah melakukan berbagai macam treatment untuk membuat MB Anda itu tidak terlalu over-acting, ya kan? Tetapi ya apa daya kalau hingga saat ini belum ketemu resep yang jitu. Dengan demikian, saya tidak akan memberikan tips2 tertentu untuk membuat MB Anda jadi berpenampilan anteng. Mulai soal pakan dan EFnya, pengubahan model tangkringan, semprot dulu sebelum lomba, dikawinkan dengan betina dll pasti sudah Anda coba, atau paling tidak pernah Anda pikirkan.
Itulah yang terjadi dengan MB saya dulu, Atlas namanya, yang sekarang sudah pindah pemilik ke tangan Om Reggy Jakarta. Dulu, saya beli Atlas karena suara dan penampilannya yang bagus. Di ajang lomba di Solo, dia pernah menyabet juara 1 dengan lawan2 yang nggak enteng. Di Pekalongan, Piala Batik (?, lupa saya) dengan lawan2 kelas nasional (Suzuki Team saat itu jadi juara umum) Atlas bisa bertengger di nomor 7.
Soal suara, Atlas termasuk dahsyat. Varasi lagunya banyak, keras memekakkan telinga lagi. Ketika menyabet juara 1, di tampil dengan aksi gerak tubuh yang over-acting. Hinggap sana-hinggap sini. Naik-turun, nyamping kanan-kiri, semau sendiri. Kalau bisa, seakan-akan dia mau menjebol sangkar untuk melabrak lawan. Aksi lebih gila lagi ketika tarung di Pekalangon. Toh demikian dia tetap tampil sebagai juara meski nomor besar.
Ketika ke Solo, Pak Reggy pun jatuh cinta mendengar teriakan Atlas. Maka diboyonglah Atlas ke Jakarta. Pada event apa, saya lupa (Pak Reggy ingat pasti), dia bisa masuk 10 besar. Pada event2 berikut, masih tetap mendapat nilai penuh untuk sejumlah juri. Tapi yang membuat Pak Reggy senewen ya tingkahnya yang keterlaluan itulah.
Maka, berbagai treatment pun dilakukan. Nyaris setiap hari kita diskusi soal itu, dan Pak Reggy melakukan hal2 yang memang dianggap perlu untuk membuat Atlas tidak banyak tingkah. Tetapi pada akhirnya… belum juga ketemu (”belum”…ya …bukan “tidak”) karena memang masih terus diusahakan.
Nah, jadi saya tidak akan berpanjang kata. Itulah cerita soal MB ganazzzzzz.
Intinya, membuat burung yang sempurna dalam segala hal memang tidak mungkin. tetapi kita perlu berusaha untuk menjadikan burung kita mendekati kesempurnaan.
Demikian pula halnya saya, secara jujur, saya akui tidak bisa memberikan tips jitu untuk MB Anda. Tetapi tetaplah diusahakan, dengan berbagai cara. Itulah seninya memelihara burung, tetapi jangan kemudian menjadi beban pikiran. Santai…. begitu loh.
Kalau soal prospek ke depannya, maka saya menyarankan ketimbang Anda stres tidak juga menemukan resepnya, maka peliharalah MB itu tanpa berpikir untuk lomba segala. Kalau pengin burung untuk lomba, ya hunting saja lagi. Jangan habiskan energi untuk burung yang memang sulit ditangani.

Pengaruh ekor terhadap perfoma Murai Batu

Salam Mas Duto.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Maaf saya nanya lagi mas. Dari banyak literatur dan tanya jawab seputaran jenis MB dan nama2 yang diberikan orang atau penjual mengenai MB yang telah saya baca cukup membuat saya bingung juga. ada yg mengatakan MB lampung atau lahat atau medan dgn ciri2 masing2, ada lagi kombinasi ekor 4-2( 4 pasang putih, 2 pasang hitam ) dsb. langsung saja saya mau tanya Mas:

Saya punya MB. MB-1 ciri2: Badan besar, panjang ekor hitamnya kisaran 20-24 cm, jumlah ekor hitamnya ada 3 helai. MB-2 ciri2: Badan lebih kecil dr MB-1, panjang ekor hitamnya kisaran 20-24cm, jumlah ekor hitamnya 4 helai.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

1. Dari ciri2 fisik yang saya sebutkan tadi, itu jenis murai batu apa atau apa nama pasar yang biasa diberikan orang untuk kedua MB tadi?

2. Kalau hanya melihat fisiknya saja, dr ciri2 yang saya sebutkan tadi, Mas Duto sebagai pakar perburungan lebih memilih yang mana dan dikarenakan alasan apa? ( misalnya masuk kriteria lomba atau banyak diminati orang atau apa? )

3. MB saya ada yang sama sekali tidak mau makan kroto ( makan hanya voor & serangga saja )dan saya sudah coba kasih kroto tp sama sekali tidak disentuh. tetapi semunya normal ( mabung ya sukses dan ya menurut saya fitlah ), Apakah dgn tidak makan kroto akan mempengaruhi performa MB tersebut?

Maaf ya mas kalau pertanyaan saya cukup banyak yang ga bermutu. hehehe

Mohon bantuannya mas Duto.

Terima kasih

Hery

Jawab:

Baca juga  Even Logawa semarak, Monster dan Ratu Jagat tak terbendung

Waduh, masalah prediksi antara performa fisik dan performa tarung di lapangan memang “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya sih”. Maksud saya, masing-masing orang punya pandangan sendiri-sendiri berdasar pengalaman. Hal itu masih saya sebut sebagai pengalaman karena memang belum ada yang terkodifikasikan sebagai ilmu yang harus memenuhi kaidah-kaidah keilmuan.

Berdasar pengamatan saya selama ini, belum ada ciri fisik MB tertentu yang berkaitan langsung secara signifikan dengan performa tempur. Hanya saja secara umum, MB kalimantan (Borneo) dikenal sebagai burung yang penuh gaya dan variasi lagunya bisa banyak. Cuma, dia memiliki “kekurangan” (dalam konteks persepsi dan lomba burung saat ini) pada tampilan bodinya yang memblendungkan bulu dada dan perut ketika bertanding (mbalon; berpenampilan seperti balon). Meskipun dia punya gaya tarung menaik-turunkan tubuh secara cepat sembari nembak-nembak, dia tidak memperlihatkan “keindahan” (versi penggemar MB dari daerah lain) secara umum karena ekornya relatif pendek.

Sebaliknya, MB sumatera, memang rata-rata berekor relatif lebih panjang ketimbang MB kalimantan (meski ada juga MB lahat ekor pendek yang panjang ekornya lebih pendek ketimbang MB kalimantan). Jenis2 MB dari Sumatera sendiri punya kekhasan masing-masing. Ada MB dari kawasan tertentu di Aceh dikenal sebagai bertipe suara ngerol (dengan ciri kepala pipih dan paruh kecil dan tipis) sementara di daerah tertentu lainnya cenderung punya tipe suara nembak-nembak keras.

Dengan ciri masing-masing itu, MB akan menampilkan performa (di lomba) secara maksimal jika perawatan dan pemasterannya sesuai dengan karakter tiap MB tersebut. MB dengan paruh tebal-panjang misalnya, akan lebih pas kalau dimaster dengan cililin atau ciblek; sementara yang tipe ngerol dan bersap, lebih pas dimaster dengan cucak jenggot dan/atau kenari.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Sementara soal ekor, belum ada patokan baku. Masing-masing orang punya pendapat berdasar pengalaman sendiri-sendiri. Untuk saya, saya katakan hingga saat ini belum ada hubungan yang jelas antara jumlah helai bulu ekor atau panjang-pendek ekor dengan performa di arena lomba.

Baca juga  Breeding murai batu Shanti BF Lenteng Agung: Anakan Titanium jadi rebutan

Meskipun demikian, ada juga yang mengatakan “ada hubungannya”. Sebagai contoh adalah pendapat seorang penangkar MB yang dulu terkenal di Jakarta, Abun (almarhum), sebagaimana di tulis di blog kawan saya yakni Om CJ (muraibatucj.blogspot.com). Menurut dia, untuk MB medan yang terbaik adalah MB yang memiliki ekor LURUS dan RAPAT!

Apa yang dimaksud lurus dan rapat? Om CJ di blognya itu menuliskan bahwa berdasar tipe ekor, ekor beberapa MB dapat digolongkan menjadi:

1. UKuran di pangkal SEDANG, di tengah BESAR, di ujung SEMAKIN BESAR

2. Ukuran di pangkal SEDANG, di tengah BESAR, di ujung SEDANG

3. Ukuran di pangkal SEDANG, di tengah BESAR, di ujung KECIL

4. Ukuran di pangkal SEDANG, di tengah BESAR, di ujung BESAR

Disebutkannya bahwa MB Lampung biasanya mempunyai type ekor SEDANG-BESAR-BESAR. Kemampuan ini mengakibatkan MB Lampung dapat leluasa menggerakkan ekornya saat berkicau. Makanya banyak juga MB Lampung yang prestasi.

Sebaliknya MB Medan tidak dapat menggerakkan ekornya kala berkicau sebab ekornya yang panjang dan tebal, (SEDANG-BESAR-SEMAKIN BESAR).

Ekor MB, katanya, menentukan daya tempur saat berlaga. Saat berkicau MB akan menggerak-gerakan ekor ke atas dan ke bawah. Ekor yg terlalu besar dan panjang membuatnya cepat lelah kala berkicau. Untuk menyiasati itu, terutama MB Medan, disarankan memilih yang bertipe sedang di dipangkal, besar di ujung, dan besar di tengah (SEDANG-BESAR-BESAR). Hindari ekor yang bercabang dan memiliki tipe SEDANG-BESAR-SEMAKIN BESAR.

Nah berdasar uraian tersebut, Anda bisa mencermati MB Anda sendiri; termasuk tipe yang mana.

Baca juga  Update Valentine: Tiket murai, lovebird, dan CI ludes

Hanya saja karena Anda meminta pendapat saya, maka saya tegaskan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara jumlah serta panjang pendeknya ekor MB dengan penampilan di lomba.

Hanya saja pada suatu waktu ada teman saya, Mas Samino, pernah memotong ekor MBnya yang panjang dengan harapan bisa kerja lebih nge-fight. Kenyataannya, MB tersebut memang bisa tarung lebih ngedan. Untuk kasus ini, nanti akan saya tuliskan di kesempatan lain.

Terlepas dari pengalaman Mas Samino, Anda tidak perlu merisaukan bentuk dan jumlah ekor MB Anda. Selama dia dirawat dan dimaster dengan baik, maka dia akan menjadi MB yang baik.

Salam,

Solusi supaya murai batu bisa ngebatman

Salam Kenal,

Om minta sharing nya donk untuk MB yg kurang vit dan apabila melihat mb lain cenderung ngebatman.Ketrekan menjadi berkurang / jarang sekali…. burung hanya ngeriwik saja

Umur Mb 11 bulan

Rawatan jangkrik 3/3

Kroto 1 sendok makan pagi, tiap hari…

jemur jam 7 – 8 pagi, maklum om kuli hehehe…

mohon om untuk sharing nya…baik perawatan dan

Baca juga  Breeding murai batu Yaqisa BF Bekasi: Produknya sering moncer di lapangan

untuk vitamin/ obat

Terima Kasih

Rey (Pertanyaan melalui PM di www.kicaumania.or.id)

Salam kenal juga,

Untuk sementara, pada pagi hari, jangkrik diberikan sebanyak MB mau. Bisa bahkan sampai 10 ekor kalau masih mau diberikan saja. Untuk obat2an, nggak usah, karena itu bukan MB sakit, hanya kurang asupan EF-nya.

Jangan dipertemukan dengan MB lain sampai benar-benar fit. Soalnya, kalau kondisi seperti itu ketemu terus dengan MB lain, akan jadi stres. Nggak usah coba2 dipertemukan kalau benar2 tidak fit. Tunggu sampai sekitar 1-2 bulan. Nanti akan pulih seperti sediakala.

 

Begitu dulu ya. Kalau ada perkembangannya, kirim kabar.

Baca juga  NSM BF Bogor buka bird shop khusus murai, lovebird, dan jalak bali

Tks kembali.

Salam,

Duto Sri Cahyono

Mengenal Muray Batu 4 Menurut Daerah Asal

MB berdasarkan Daerah Tangkapan
1. Muray Batu Kawasan pesisir, memiliki postur yang agak ramping dan ekor sedang namun sebagian besar tidak memiliki ekor putih, suaranya isian alam agak kurang karena medan tempurnya pesisir. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan MB ini disenangi di BNA dan sekitarnya…, salah satunya adalah MB ini biasanya dari pegunungan yg langsung berhadapan dengan laut (tebing2 di kawasan pesisir ) dengan tingkat persaingan yg sangat keras dengan predator dan sumber pakan yg terbatas ( sehingga tidak rewel dengan makanan ), secara alamiah memiliki temperamen & mental yang sangat bagus…mungkin ini yg menyebabkan lebih mudah beradaptasi dengan manusia & lebih cepat bunyi…( selain itu mungkin juga perawatannya yg baik )Biasanya MB yang berasal dari kawasan pesisir tidak terlalu besar, dan bulu dada yg kurang tebal, tetapi memiliki fisik yang lebih lincah dan kuat dengan vol. yg diatas rata2. (kemungkinan dialamnya sering terbang nentang angin, dan naik turun dari tebing terjal ) dipinggiran laut…

2. Muray Batu kawasan pegunungan lebat, memiliki postur rata-rata jumbo dan ekor bervariasi, namun MB dari kawasan ini terkenal galak dan ganas, isian alam MB daerah ini luar biasa apalagi kalau bisa mendapatkan yang muda hutan untuk dimaster. Isian alam MB kawasan hutan lebat biasanya hampir semua suara yang ada dihutan tsb (suara burung-burung hutan, jangkrik hutan, siamang, monyet dan suara-suara aneh lainnya dipadukan dengan tembakan-tembakan/besutan kasar dan tajam). Kalau yang dikawasan air terjun suara isian alamnya ya itu tadi mendesir dan menderu dan dipadukan dengan suara alam sekitar air terjun tsb, biasanya sebelum bunyi ada intronya dulu. Namun dengan kondisi sekarang ini dengan maraknya penebangan hutan secara liar serta perburuan yang merajalela. Banyak MB yang bermigrasi dari wilayah yang satu ke wilayah lainnya, maka tidak bisa kita mengatakan kalau MB yang ekor hitam hanya ada disatu wilayah saja. Kelebihan MB dari daerah ini yaitu tadi ……banyak isian alamnya..Kekurangannya sedikit liar karena jarang berjumpa dengan manusia dan agak susah makan makanan instan (voer) .Ciri fisik biasanya MB dari daerah ini bodynya besar2,karena tersedianya makanan yg melimpah dan air serta lingkungan/habitat tempat tinggal.tetapi ada juga yang posturnya kecil juga..sama halnya dengan kita-kan.

 

3. Muray Batu kawasan air terjun/ngarai, memiliki karakter yang tenang dan pandangan yang teduh, memiliki suara alam yang khas (menderu dan mendesir), posturnya rata-rata ramping dan warna bulunya agak pudar/tidak mengkilap

Mengenal Muray Batu 3

Pemikat burung muray batu biasanya akan mencari muray, dgn berbekal seekor MB pemikat yang sudah ngerol.
Sampai di lokasi yang dia tuju, maka MB pemikat langsung diletakkan di tempat yang dia tentukan dan MB pemikat langsung akan berbunyi. Biasanya tidak beberapa lama akan datang seekor MB betina menghampiri MB pemikat. Dalam hitungan detik MB betina ini langsung lari mendengar MB pemikat berbunyi.
Tak lebih dari 2 menit setelah itu, datang MB jantan dan MB betina yang tadi lari dan langsung berusaha menghajar MB pemikat.
Setelah itu, terperangkaplah sepasang MB tsb.

 

Inti sari dari episode tsb di atas adalah:
1. MB sangat sensitif sekali menjaga wilayah teritorialnya, baik yang Co maupun Ce.
2. MB adalah jenis burung yang mempunyai sifat monogami.
Begitu MB pemikat menyusup ke wilayahnya, MB betina langsung melaporkan kejadian ini pada sang Jantan.

TIPS MEMILIH MURAY BATU BAKALAN
Diasumsikan MB bakalan adalah MB tangkapan hutan yang belum makan voer dan harganya juga relatif murah.
Yang perlu anda perhatikan dalam pemilihan ini adalah:
1. Mata
Hindari membeli MB yang pada matanya sudah kelihatan tanda adanya katarak, yaitu selaput berwarna putih pada bola mata. Jika MB sudah katarak, resiko MB tsb menjadi buta sangat tinggi sekali.
2. Kaki.
Usahakan cari kaki MB yang berwarna hitam, karena MB yang memiliki warna hitam pada kakinya, diyakini punya mental berani. Tapi ingat, bukan berarti kaki berwarna lain tidak bagus.
Hindari memilih MB yang memiliki kuku kaki bagian belakang (kelingking) berwarna tidak sejenis, yaitu satu hitam satu lagi putih.
Kami menyebut kuku yang seperti ini dgn sebutan kuku ******.
MB yang memiliki kuku seperti ini sangat diyakini memiliki mental yang tidak stabil, artinya kalau lagi on fire dia bisa hebat, tapi juga sering down.
3. Ekor.
Cari MB yang memiliki ekor rapat dan tidak terlalu tebal. Ekor yang seperti ini selain enak dipandang, juga akan membuat MB memainkan ekornya pada saat ditrek.
Hindari membeli MB dengan ekor bercabang atau menggunting. MB ini diyakini memiliki mental tidak stabil.
Hindari juga membeli MB yang tidak punya ekor, karena kita tidak bakalan tahu bagaimana bentuk dan jenis ekor dari MB tsb, jika ekornya sudah tumbuh kembali.
4. Bulu Dada.
Kebayakan MB memiliki bulu dada berwarna coklat, tapi jika anda mendapatkan MB dgn bulu dada cenderung berwarna kekuningan, maka itu rezeki anda. MB bakalan dengan warna bulu dada seperti ini, biasanya cepat berbunyi dan cepat juga jadi.
5. Usia
Jangan pernah menilai usia MB hanya berdasarkan pengamatan pada kaki, ini bisa menipu calon pembeli.
Tipsnya, tangkap MB tersebut, buka mulutnya dan perhatikan rongga mulutnya. Jika masih berwarna putih atau sedikit cerah, maka MB tersebut masih muda, jika sudah berwarna hitam berarti MB tsb sudah tua dan semakin pekat warna hitamnya, semakin tua usia MB tsb.
MB bakalan muda juga mempunyai tanda bulu yang masih berbintik cokelat dibagian sayap sebelah luar maupun sayap sebelah dalam.
6. Tingkah.
Jika ada MB bakalan yang pada saat kita pegang dia menjerit kencang dan berusaha mematuk-matuk jari tangan kita, inilah MB dengan mental berani.
MB seperti ini adalah MB yang menjadi rebutan bagi para hobbies di BNA.

Mengenal Murai Batu 2

Murai Batu
Murai batu (Copychus malabaricus) adalah anggota keluarga Turdidae. Keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan berkicau yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi. Ketenaran Burung Muray batu bukan hanya sekedar dari suaranya yang merdu, namum juga gaya bertarungnya yang sangat aktraktif. Serta penampilan fisiknya yang indah. Ciri umum semua jenis murai batu adalah ekornya yang panjangnya melebihi ukuran badannya. Kepala, leher, dada bagian atas, dan paruhnya berwarna hitam berkilau. Badan bagian bawah berwarna cokelat kemerahan. Panjang badan untuk betina 22 cm, sedangkan untuk jantan mencapai 28 cm.

Mengenal Kerabat Dekat Murai Batu
Murai batu yang banyak dikenal selama ini merupakan jenis burung yang termasuk suku burung “cerdas”. Hampir semua jenis yang ada dalam suku tersebut, Turdidae, merupakan burung peniru dan penyanyi terbaik dalam komunitas burung kicauan.
Suku burung ini cukup banyak jenisnya dan tersebar luas di dunia. Jenis-jenis yang ada termasuk dalam banyak kelompok burung, seperti cingcoang, kucica, meninting, tiung, dan anis.
Berbagai jenis burung yang ada dalam suku Turdidae tersebut umumnya mempunyai pola penampilan warna yang beragam dan menarik. Ukuran tubuhnya rata-rata sedang, kepala bulat, kaki agak panjang, paruh runcing dan ramping, dan sayapnya lebar.
Secara umum kelompok burung ini suka memakan serangga atau invertebrata lainnya dan buah-buahan. Dalam mencari makanan, secara umum jenis burung ini suka mencari makan di permukaan tanah dengan terbang rendah.
Karena kehidupannya banyak dihabiskan di permukaan tanah, kelompok burung ini menjadi suka membuat sarang di semak atau pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Sarang umumnya berbentuk seperti cawan yang terbuat dari anyaman daun atau ranting kering yang diletakkan di cabang pohon.
Walaupun suku Turdidae memiliki banyak kelompok, tetapi jenis murai batu hanya ada satu. Namun, karena mempunyai penyebaran yang cukup luas, murai batu yang ada di mana-mana berkembang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Perkembangan dalam lingkungan yang berbeda ini kemudian memunculkan variasi bentuk dan ukuran pada tubuhnya, seperti murai asal Sumatera diyakini mempunyai ukuran tubuh yang tidak terlalu besar dan berekor panjang. Berbeda dengan murai batu yang berkembang di Kalimantan. Ukuran tubuhnya agak sedikit lebih besar, ekornya pendek. Demikian pula dengan murai batu yang hidup di kepulauan lain juga mempunyai spesifikasi.
Karena penyebaran burung ini cukup luas, mulai dari India hingga ke Indonesia, maka orang mengenal jenis-jenisnya sesuai dengan daerah asalnya sehingga ada murai batu india, murai batu cina, murai batu filipina, murai batu malaysia, murai batu kalimantan, murai batu sumatera (medan atau lampung), murai batu jawa (larwo), dan murai batu bali yang sudah langka.
Dari beberapa jenis murai batu yang ada masing-masing mempunyai ciri sendiri-sendiri. Dari ciri-cirinya, murai batu yang banyak dipelihara oleh para penggemar burung di Indonesia adalah murai batu yang berasal dari Sumatera, Malaysia, dan Kalimantan. Murai batu dari ketiga tempat tersebut mempunyai penampilan yang cukup bagus saat berkicau. Kalau berkicau, mampu melagukan irama yang cukup merdu. Tidak jarang murai batu ini juga menyanyikan irama lagu burung lain. Adapun ciri murai batu dari ketiga tempat tersebut adalah sebagai berikut :

Murai batu malaysia
Salah satu ciri khas murai batu dari negeri jiran ini adalah badannya yang kecil dengan kombinasi ekor yang cukup panjang. Ekor murai batu malaysia ini bila dilihat secara seksama agak tipis dibanding dengan murai batu dari tempat lain. Karena tulang bulu ekornya lebih tipis dan panjang, dalam keadaan diam ekor murai batu asal Malaysia ini agak melengkung ke bawah (lentur).
Bila sedang berkicau, gerakan ekornya naik turun seperti cambuk. Dari segi suara, burung ini cukup merdu dan variatif irama lagunya. Burung ini cukup cerdas sehingga mudah dilatih dengan lagu burung lain yang merdu.

Baca juga  Murai batu Mawar Hitam makin eksis di wilayah Solo Raya

Murai batu sumatera
Murai batu sumatera yang dikenal selama ini ada ada dua, yaitu dari Medan dan Lampung. Pkdahal, secara umum di berbagai daerah di Sumatera masih bisa ditemui murai batu. Namun, karena pedagang dari berbagai daerah, khususnya Jawa, kalau membeli murai batu ke pengepul di Medan atau Lampung, menjadikan orang menganggap murai batu di Sumatera hanya ada di Medan dan Lampung.
Murai batu yang berasal dari Sumatera ini secara umum badannya sedikit lebih besar dari murai batu malaysia. Ekornya kira-kira sepanjang 22-24 cm. Karena tulang bulunya lebih tebal maka pada saat bernyanyi ekor yang digerakkan naik turun terlihat agak kaku.
Dari segi suara, secara umum penggemar burung lebih menyukai murai batu asal Medan dibanding dari Lampung. Hal itu dikarenakan penggemar burung mengganggap murai batu asal Medan ini lebih cerdas sehingga kalau diisi dengan suara burung lain lebih mudah meniru. Kemudian, dalam membawakan lagu antara variasi satu dengan variasi lagu lain bisa bersambungan dan ngeroll. Yang dari Lampung dalam membawakan lagu sering mengulang-ulang atau istilah dalam perburungan ngeban.

Murai batu Kalimantan
Murai batu dari Kalimantan ciri fisik utamanya adalah ukuran badannya sedang dengan variasi ekor yang jauh lebih pendek dibanding dengan murai batu asal Malaysia atau Sumatera. Panjang ekor rata-rata hanya 13 cm, semakin ke ujung ekornya semakin melebar.
Murai batu asal Kalimantan kurang begitu disukai karena dianggap kurang mempunyai banyak variasi lagu. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Asal mau mendidiknya atau melatih dengan lagu burung lain, murai batu asal Kalimantan tidak kalah dengan murai batu asal Sumatera atau Malaysia. Cuma, dari segi penampilan murai batu Kalimantan memang kalah menarik sebab ekornya yang pendek kalau lagi berkicau naik turunnya tidak seindah murai batu asal Malaysia atau Sumatera.
Namun demikian, bukan berarti burung ini jelek. Dalam hal lagu, murai batu kalimantan memang kalah dengan murai batu asal Sumatera. Namun, kalau perawatan sejak awal baik dan dipadu dengan pemberian master burung yang punya suara merdu, burung ini tidak kalah dengan murai batu asal Sumatera atau Malaysia.

Mengenal Murai Batu 1

Murai batu (Copsychus malabaricus) merupakan burung kicau paling populer. Termasuk ke dalam family Turdidae. Tersebar di seluruh pulau Sumatra, Semenanjung Malaysia, dan sebagian pulau Jawa.
Jenis yang dianggap terbaik adalah Murai Batu Medan. Hanya saja tindakan eksploitasi hutan berlebihan dan perburuan untuk kepentingan komersial membuat jenis ini sulit ditemui di pasaran.

Ciri morfologis
Memiliki tubuh hampir seluruhnya hitam, kecuali bagian bawah badan berwarna merah cerah hingga jingga kusam. Terdapat sedikit semburat biru di bagian kepala. Ekor panjang ditegakkan dalam keadaan terkejut atau berkicau.

Murai Batu dari Tanjung Redep, Kalimantan Timur menpunyai keunikan di bagian kepalanya yang bergaris putih memanjang ke belakang. Murai Kalimantan memiliki ekor lebih pendek dengan panjang sekitar 8-12 cm, sementara Murai Batu Sumatra 15-20 cm . Ciri khas lainnya adalah Murai Batu Kalimantan apabila berhadapan dengan jenisnya akan mengelembungkan bulu-bulu disekitar dadanya sambil berkicau.
Badan berukuran 14-17 cm.

Pakan
Makanan umum adalah serangga kecil. Hobiis biasanya memberikan kombinasi pelet, kroto, jangkrik, ulat hongkong dan telur lebah. Murai Batu juga memakan poer/voer, yang biasanya tersedia di pasaran adalah merk Phoenix (www.kenarijaya.com), Fancy, Gold Coin, Chirpy, TopSong, dan lain-lain.

Seksing
Jantan dibedakan dengan betina dari kicauan yang lebih aktif dan ekor lebih panjang. Jantan tidak bisa menoleransi adanya jantan lain di sekitar wilayahnya. Sementara betina sulit menerima jantan yang tidak dikenal. Biasanya penangkaran dilakukan dengan mengawinkan pasangan dari satu induk (incest).
Namun saat ini banyak pengemar burung berkicau di daerah Jawa sudah mulai berhasil menangkar Murai Batu silangan antara jenis Sumatra (Medan) dengan jenis kalimantan (Borneo). Sumber: wikipedia

 

Memilih bakalan

Dari segi fisik :
bentuk kepala ceper
tubuh panjang setara
ekor tidak panjang
paruhnya sedang.
Kretekan keras dan padat.
(Moelsip)

1. Pilih patuk yang agak lurus
2. leher besar panjang
3. garis hitam didada agak keatas cari yang rata dengan sayap
4. ekor melengkung mulai pangkal

Burung Murai batu jinak menantang juri

Banyak di antara kicaumania yang tidak suka kalau punya MB terlalu jinak. Mereka berpendapat, MB jinak tidak bisa ngotot ketika tarung. Saya dulu juga berpendapat begitu, tetapi sekarang tidak lagi. Sebab, 4 MB jinak hasil tangkaran teman Solo telah membuktikannya. Cerita keempat MB itu begini:

– MB pertama (hasil tangkaran sekitar 3 tahun lalu, dengan ring Lintang/ hasil tangkaran Samino Solo) sangat jinak dan saking jinaknya, kalau dikaramba sulitnya setengah mati. Begitu ditakut2 dengan tangan kita, malah mendekat dengan gaya mau mengejar tangan mau mematuk.

Begitu juga kalau kayu dimasukkan ke sangkar, dia malah mematuk2 kayu. Tidak lari menjauh dan masuk karamba. Ketika ditarungkan dalam kondisi fisik tidak top, dia cenderung turun dari tangkringan dan mengejar-ngejar juri sambil membisu dan cuma cer-cer-cer kayak kalau di rumah pas minta makan. Ketika burung itu dalam kondisi fisik bagus (sekitar sepekan tidak ketemu lawan, dengan perawatan maksimal) ternyata ketika dilombakan tancep terus. Begitu juri mendekat, dia tidak turun dari tangkringan, tetapi malah mengeluarkan semua jurus tembakan2nya.

Hebatnya, ketika mengeluarkan jurus2 andalannya itu dia selalu menghadap juri. Di mana juri berdiri untuk memantaunya, dia selalu menghadapinya… terus… sembari nembak2.

– MB kedua dan ketiga, persis sama perilakunya, dan saya melihat sendiri perilaku2 MB itu.

Tetapi sampai di situ, saya belum yakin apakah MB jinak memang punya sifat tarung seperti itu kalau sedang dalam top performance. Sampai pada akhirnya, saya mendengar cerita tentang MB keempat (namanya Alpacino-3, yakni anakan Alpacino jantan nomor ke-3, juga ring Lintang). MB ini sekarang usianya 13 bulan (ganti bulu trotol pada usia 2-3 bulan, dan rontok pertama pada usia 9 bulan).

Baca juga  Selain Super Bejo, ada lagi murai batu Bejo yang juara di BnR Award

Pada Rabu (18 Juni 2008) lalu, Alpacino-3 dibawa ke latihan di Manahan Solo. Penginnya saya mau ikut memantau, tetapi tidak sempat karena kebetulan sedang ketamuan kawan KM kita, Om Jhon Abet, yang sama2 tinggal di Solo.

Karena saya memang pengin segera tahu bagaimana performance Alpacino-3, maka saya ajak Om Jhon Abet dan dua kawannya dari Semarang untuk meluncur ke tempat Mas Samino.

Hal pertama yang saya tanyakan adalah, “Gimana Alpacino-3? Mau kerja?”

“Wah, ngedan…. nembak-nembak nantang juri,” jawab Mas Samino bersemangat.

“Tapi, isiannya keluar semua nggak?”

“Wah komplit…” jawabnya sambil geleng2 kepala mengagumi performa Alpacino-3. Untuk diketahui saja, salah satu orang Solo yang saya tahu “gila” dalam memaster MB ya Mas Samino ini. Tak kurang2 masteran di rumahnya: cililin, pelatuk, jiblek, lovebird, jalak suren, cucak jenggot, kapas tembak, kenari, branjangan……..yang semuanya gacor. Dan tak ketinggalan suara jangkrik dan sonic master… nonstop di malam hari. Wah pokoknya edan.

 

Kawan kita Om Jhon Abet, ketika saya cerita sebelum berangkat ke rumah tempat keponakan Mas Samino (tempat Mas Samino memaster MB dan menjauhkannya dari suara CR karena dia juga menangkar CR), hanya tersenyum dan mungkin (maaf su’udzon) menganggap saya hanya membual. Nah ketika kami sampai di sana, dia baru manggut2 percaya apa yang saya omongkan. Kebetulan lagi, ternyata Om Jhon Abet adalah kawan SMP keponakan Mas Samino…. nah sudahlah akhirnya keduanya asyik ngobrol tentang burung2 piaran Mas Samino.

Rasa penasaran saya pada penampilan Alpacino-3 belum selesai, maka saya tanya, “La bagaimana? Dapat nomer berapa kalau memang kerjanya bagus?”

“Alah… kayak nggak tahu juri Solo aja…..,” katanya sambil tersenyum kecut penuh arti. BTW, ini cerita lain tentang “sakit”-nya oknum (oknum loh) juri Solo yang sering memberi predikat juara atas “pesanan”… Kali lain ajalah ceritanya.

“Hehe…. ora penting juara apa enggak. Yang jelas saya puas lihat penampilan Alpacino,” lanjut Mas Samino yang saya amini….

Nah sampai di situ saya baru yakin kalau MB jinak memang punya sifat nantang2 juri di latihan/lomba kalau sedang dalam top performa.

Padahal saya tahu sendiri, Alpacino-3 baru saja utuh bulu setelah mabung pertamanya itu dan belum “difisik” (ini istilah Solo untuk “perawatan khusus” setelah burung mabung seperti full jemur yang dimulai setahap demi setahap sampai akhirnya MB kuat jemur dari pagi sampai jam 12 siang; sedikit diumbar; dan sebagainya). Dalam kondisi seperti itu saja sudah mau menunjukkan performa yang lumayan, apalagi kalau sudah “difisik”, tentunya lebih bagus.

Btw, ketika saya ngobrol dengan Mas Samino, si Alpacino-3 masih juga nembak-nembak meski baru saja dibawa ke lapangan. Dia bersahut2an dengan MB yang lain yang juga barus saja dilatih (nah, MB terakhir inilah yang saya ceritakan dipotong ekornya itu untuk menambah performa).

Mungkin karena demikian kesengsemnya (tertarik) dengan Alpacino-3, teman Om Jhon Abet dari Semarang iseng tanya ke Mas Samino, “Mas, kalau MB yang itu 3 juta boleh enggak itu?”

Yang ditanya cuma tersenyum, “Aha… ya belum boleh-lah. Terus terang ini mau saya buat pelapis.” Wah, saya cuma berpikir saat itu, masak MB “anakan begitu” saja harganya sudah tinggi. Tapi ya itulah, namanya saja penghobi kok ya….

Ceritanya, Mas Samino sudah punya MB yang lebih berumur dan juga jos gandhos tembakan maupun volumenya, tetapi dia rencanakan untuk ditangkar, sedangkan Alpacino-3 dan MB lainnya yang lebih muda mau buat mainan di lapangan. Sekadar tambahan cerita, Alpacino-3 punya karakter sama dengan bapaknya, suara ngerol dengan selingan2 rentetan tembakan, dan kalau sudah tancep, jarang nglepas kaki dari tangkringan.

Bagusnya lagi karena dia super jinak, nah ini inti ceritanya, dia selalu “nantang” ke arah juri saat nembak2 mengeluarkan jurus-jurus andalannya dan seakan tidak peduli ke MB lain di sekitarnya. Sepertinya dia sepaham dengan saya bahwa musuh utama kicauan di lapangan bukanlah burung lain, tetapi juri…….yang seringkali mudah “dipesan”…., hehehe…

burung Murai Batu (5): Karakter suara dan pemasterannya

Jenis dan karakter kicauan murai batu (MB) bermacam-macam. Menurut Om Herry Aceh di forum MB www.kicaumania.or.id, karakter tersebut antara lain:

1. MB yang dominan ngerol.
2. MB yang dominan nembak
3. MB yang mengkombinasikan antara ngerol dan nembak

Om Herry selanjutnya mengatakan, jika kita dapat menilai karakter atau tipikal dari kicauan MByang kita miliki, maka akan mudah bagi kita dalam memaster MB tersebut. Ada sedikit korelasi antara jenis dan tingkat ketebalan paruh dengan karakter kicauan dari MB, tapi perlu diingat, ini baru sebatas hipotesis. MB dengan paruh pendek dan tipis lebih berkarakter ngeroll, sedangkan MB dengan paruh panjang lebih berkarakter nembak.

“Jika kita sudah dapat memahami karakter kicauan MB kita, maka untuk memaster MB tersebut dibutuhkan penyesuaian jenis suara master agar MB dapat memaster suara masterannya dengan baik,” katanya.

Intinya, demikian Herry, MB akan lebih mudah dimaster jika kita dapat menyesuaikan jenis suara master dengan karakter kicauannya. Contoh kecil, jika kita memiliki MB dengan karakter ngerol, maka burung atau suara kenari yang juga berkarakter ngerol akan mudah dimaster ke MB. Demikian juga sebaliknya, jika MBnya berkarakter nembak, maka suara kenari akan sulit dimaster ke MB tersebut.

Makanya jangan heran jika MB kita sudah lama ditempel dengan kenari, tapi suara kenarinya tidak masuk ke MB, malah suara lain yang lebih cepat masuk ke MB tersebut.

Memaster untuk tujuan lomba

Berkaitan dengan persoalan memaster MB ini, saya menyampaikan tips untuk “penggila lomba”. Begini:

Kalau Anda sudah mengenali karakter suara MB Anda, maka jangan pernah diisi dengan beragam isian ketika waktunya memaster. “CUKUP DIISI DENGAN SATU ISIAN” saja. Katakanlah MB Anda sesuai diisi dengan suara CJ, maka isi saja dengan itu. Hilangkan semua suara lain yang merangsang MB untuk menirukannya. Tujuannya jelas, agar si MB mahir menyuarakan suara CJ tapi relatif “bego” mendendangkan suara lain.

Artinya, benar2 hanya suara CJ yang selalu ditembakkan MB Anda ketika digantang di lapangan. Dengan tanpa memiliki “referensi” lain, maka ketika MB Anda ngotot menyemprot lawan kesana kemari di lapangan, benar2 sangat monoton menyuarakan CJ. Tetapi itu luar biasa, akan terdengar sangat-sangat dominan.

 

Begitu juri melakukan kontrol (putar) pertama, dia akan ditarik perhatiannya pada suara MB Anda. Demikian pula halnya ketika kontrol kedua dan ketiga. Maka yakinlah bahwa MB Anda bakal mendapat nilai mentok dari semua juri (juri dalam kondisi “normal”).

MB seperti ini, kalahnya hanya oleh MB yang selalu nembak keras dengan suara variatif. Tetapi MB bersuara variatif yang bisa dikeluarkan semua di lapangan, adalah seribu:satu

Tips ini saya sampaikan berdasar catatan saya atas penampilan MB orang Magelang (Borobudur namanya kalau saya tidak salah ingat; milik “Gank” New Armada) satu-dua tahun lalu. Dia menyabet favorit B karena dari awal sampai akhir selalu menembakkan suara LB (padahal bukan crecetannya, tetapi sekadar suara “cing-cing-cing”-nya). Tetapi pada akhirnya memang sangat2 terdengar mendominasi.

Sebagai catatan: tips ini hanya berlaku untuk “parameter” yang digunakan juri saat ini. Sebab, bagi Anda yang sudah lama berkecipung di per-MB-an, pasti masih ingat bahwa MB yang bagus di zaman lampau adalah yang bisa mengeluarkan suara air mancur yang terus-menerus berkepanjangan. Untuk masa yang akan datang, wallahualam.

Catatan tambahan: Bagi Anda yang memelihara MB untuk rumahan, jangan sekali-kali menggunakan tips ini. Sebab kalau suara monoton cililin yang ingin Anda isikan ke MB Anda, maka sebaiknya memelihara cililin saja, nggak perlu repot2 memasternya, hehehe.