Kegagalan Vaksinasi ini sebabnya

 

Kompleksnya faktor penyebab kegagalan vaksinasi menuntut peternak untuk tanggap terhadap kondisi vaksin, hewan serta lingkungannya. Karenanya, kemampuan yang memadai tentang seluk beluk vaksin dan segala aspeknya sangat diperlukan guna berhasilnya tindakan vaksinasi.

Perkembangan dunia obat-obatan ternak saat ini sudah sangat maju, sehingga dipasaran terdapat puluhan bahkan ratusan jenis obat dari berbagai merk, baik impor maupun produksi dalam negeri. Namun tidak semua penyakit dapat disembuhkan oleh berbagai obat tersebut, atau kalaupun dapat diobati sempat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Atas dasar hal tersebut, kemudian timbul usaha-usaha untuk mencegah berjangkitnya suatu penyakit diantaranya melalui vaksinasi.menurut Heru Suripta (1991), prinsip umum dari vaksin dan vaksinasi adalah diperolehnya tanggap kebal (immunoprofilaksis) oleh akseptor sehingga immunitas

ternak meningkat sampai level yang dikehendaki dan dapat terhindar dari kemungkinan infeksi oleh organisme yang sejenis. Vaksin yang ideal sebaiknya memberi kekebalan yang tinggi dan berlangsung lama. Kekebalan ini sebaiknya diperoleh oleh hewan yang

divaksin maupun oleh fetus yang dikandung (bila sedang bunting). Oleh karena tanggap kebal bisa didapat ternak dari infeksi alami maupun dari induk, maka hendaknya vaksin bersifat mantap, baik untuk vaksinasi massal dan dapat merangsang tanggap kebal yang

tidak dapat dibedakan dari akibat infeksi alami, sehingga vaksinasi dan pemberantasan penyakit berlangsung serentak.

Salah satu tujuan pemeliharaan ternak adalah keuntungan ekonomi. Maka sudah seharusnya bila vaksin berharga murah dan mestinya bebas dari efek samping yang merugikan, atau dampak yang ditekan seminimal mungkin.

Namun perlu disayangkan, dua prasyarat sebagai vaksin yang ideal yaitu antigenitas yang tinggi dan tidak ada efek samping yang merugikan cenderung tidak serasi. Vaksin hidup (vaksin yang berisi organisme hidup) mampu merangsang tanggap kebal yang baik, tetapi masih dapat membahayakan ternak karena kemungkinan masih ada virulensi yang tertinggal.

Sedangkan vaksin mati merupakan vaksin yang aman tetapi tidak merangsang tanggap kebal yang baik.

Sebab kegagalan vaksinasi

Tujuan utama dari vaksinasi adalah untuk mengindari kerugian akibat serangan penyakit tertentu, dengan memberikan kekebalan pada hewan dengan terhadap penyakit yang dimaksud. Oleh karena itu dalam pelaksanaan vaksinasi harus mengacu pada beberapa hal, antara lain : tanggap kebal harus benar-benar melindungi hewan dari penyakit yang dimaksud, harus diketahui identitas organisme penyebab penyakit, dan

resiko penggunaan vaksin tersebut tidak melebihi resiko yang diakibatkan oleh penyakit itu sendiri. Namun demikian kegagalan vaksinasi masih sering ditemui di lapangan, walaupun kriteria-kriteria sudah vaksin dipenuhi. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain :

a. Faktor vaksin

Kekebalan vaksinasi dapat terjadi bila ternyata galur organisme antara vaksin dan penyebab penyakit tidak cocok. Akan sama halnya bila ternyata vaksin tidak efektif.

Hal ini bisa terjadi bila vaksin mengalami kematian, misalnya akibat penanganan yang kurang benar seperti kesalahan dalam penyimpanan dan perlakuan-perlakuan lain yang dapat merusakkan vaksin.

b. Pelaku vaksinasi dan kondisi saat vaksinasi

Adakalanya karena suatu sebab tertentu, vaksinator tidak memberikan vaksin sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Sebagai akibatnya, vaksin tidak mampu memberikan perlindungan yang optimal. Bisa juga vaksin diberikan sesuai dosis yang dianjurkan, tetapi tidak mencapai sasaran, misalnya pada pemberian vaksin dengan metode aerosol atau melalui minuman/makanan.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Bila earosol tidak tersebar rata di seluruh ruang atau sebagian dari hewan tidak cukup mendapatkan minum/makan karena sebab-sebab tertentu, maka kegagalan vaksinasi dapat terjadi.

Keadaan lingkungan yang terlalu panas pada saat dilakukan vaksinasi, apalagi sinar matahari sampai mengenai vaksin, maka keadaan tersebut dapat menurunkan atau bahkan menghilangkan efektifitas vaksin.

Penggunaan alkohol yang berlebihan saat vaksinasi atau mencampur vaksin dengan antibiotik juga dapat mengakibatkan matinya vaksin yang pada gilirannya mengakibatkan kegagalan vaksinasi.

c. Faktor hewan

Hewan yang baru lahir sudah otomatis secara pasif dilindungi oleh antibodi asal induk, sehingga vaksinasi yang dilakukan pada waktu dini tidak mungkin akan berhasil dengan baik. Vaksinasi dapat berhasil dengan baik bila kekebalan pasif telah surut. Karena surutnya kekebalan pasif ini sulit diketahui kapan, maka vaksinasi harus dilakukan paling tidak 2 kali. Partodiharjo (1990) menjelaskan bahwa tanggap kebal merupakan proses biologis yang tidak pernah memberikan perlindungan mutlak dan tidak pernah sama pada semua anggota dari suatu populasi yang divaksinasi.

Sebab itulah tidak mungkin seluruh populasi hewan dapat terlindungi oleh tindakan vaksinasi. Kegagalan vaksinasi dapat juga terjadi bila pada saat dilakukan vaksinasi keadaan tanggap kebal hewan tertekan. Ini bisa terjadi misalnya oleh investasi parasit yang berat atau malnutrisi serta dalam masa inkubasi.

Stress yang dialami oleh hewan kerena berbagai sebab, juga panas yang sangat, dapat menekan kemampuan tanggap kebal seekor hewan.

Guna mendukung berhasilnya vaksinasi, observasi terhadap hewan yang akan divaksin serta penentuan saat yang tepat untuk vaksinasi sangat diperlukan. Kondisi hewan yang benar-benar sehat dengan kondisi lingkungan yang mendukung, disertai pelaksanaan vaksinasi yang cermat dan tepat diharapkan lebih menjamin keberhasilan vaksinasi.

Tes titer antibodi bagi hewan setelah divaksinasi juga dianjurkan. Hal ini dapat digunakan sebagai kontrol terhadap hasil vaksinasi yang dilakukan.

Bila ternyata titer antibodi belum mencapai tingkat yang dikehendaki maka vaksin ulangan dapat diberikan segera sehingga kerugian akibat kegagalan vaksinasi dapat dihindarkan.

PI/dw

Silakan mengkutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya : www. poultryindonesia.com

 

 

Salam,

Duto Solo

cara mencegah dan mengobati kutu burung

 

Kutu pada burung bisa menyebabkan burung kerja tidak maksimal (karena selalu pengin garuk-garuk, hehehe) selain itu juga bisa menyebabkan bulu burung rusak. Sebenarnya banyak tips yang sudah ditulis oleh penghobi burung di berbagai media. Di sini saya hanya akan menggaris bawahi dan menekankan perlunya pencegahan, yang naga-naganya kurang diperhatikan.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Di antara penghobi burung ada yang menyarankan digunakan zat non-kimia, ada yang menyarankan pakai obat (kimia) merek tertentu untuk pengobatan. Masalah pengobatan memang perlu dibahas, tetapi pertama-tama yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana mencegah agar burung tidak kutuan, disambung dengan masalah pengobatan.

burung kutuan

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

A. Pencegahan:

1. Pastikan bahwa semua burung yang Anda miliki bebas kutu. Kalau membeli burung baru, pastikan semprot dengan larutan anti-kutu sebelum dicampur/dekatkan dengan burung lain. Terlebih lagi, jangan langsung dimasukkan ke karamba umum (karamba yang dipakai bareng bergantian dengan burung lainnya di rumah Anda). Kalau memang kutuan, air bekas mandi burung tersebut pasti meninggalkan telor/kutu yang bisa menular ke burung lain yang juga dimandikan di karamba tersebut belakangan.

Kalau perlu sediakan karamba khusus burung baru dan yang bisa dipinjam teman ketika teman tersebut main ke rumah Anda untuk sekadar ngetrek bareng.

Kalau memang tidak ada atau hanya tersedia satu, maka bersihkan sebersih mungkin dan semprot karamba yang habis digunakan oleh burung teman/burung baru itu dengan obat anti kutu.

2. Sama dengan masalah karamba, juga masalah kerodong. Jangan saling tukar kerodong dengan kerodong “burung asing”. Kalau dapat kerodong dari teman, pastikan juga dicuci bersih dan diobat anti kutu.

3. Jangan minta voer/kroto/buah dll langsung dari wadah pakan burung milik teman/orang lain.

Seringkali kita membawa burung dan kebetulan voer-nya tumpah, dan biasanya kita minta barang sedikit ke teman dan langsung diambil-bagi dari wadah pakan burung teman kita. Ini juga potensial menjadi media penularan kutu (telor kutu), apalagi kalau wadah voer milik teman jarang dicuci/dibersihkan dan hanya main “tiup dan ganti voer”.

Singkat kata, hindari semua benda yang potensial membawa kutu dan telornya dari luar ke burung Anda.

4. Rutin cuci kandang, tiap hari sekali atau sepekan sekali ketika burung Anda dimandikan di karamba. Untuk burung yang non-karamba, ya usahakan sedemikian rupa sehingga selalu bersih dan bebas kutu. Cuci dengan sabun antiseptik atau juga semprot berkala dengan antikutu.

Baca juga  Jika jari kaki belakang burung menekuk ke depan, bagaimana mereparasinya?

5. Jemur. Penjemuran, selain bermanfaat untuk burung, juga bisa meminimalisasi pengembangbiakkan jamur dan kutu di luar tubuh burung.

6. Hindari kondisi lembab untuk lingkungan burung. Dalam hal sangkar misalnya, kalau dalam kondisi basah jangan langsung dimasukkan ke rumah. Keringkan, dan kalau perlu Anda punya hairdryer khusus sangkar/ peralatan untuk burung. Hairdryer akan sangat bermafaat kalau kita tidak sempat menunggu keringnya sangkar secara alamiah (sinar matahari) padahal pada saat yang sama sangkar (dan burungnya) harus segera masuk rumah.

7. Lakukan penyemprotan rutin dengan obat kutu atau antiseptik ke benda-benda yang berhubungan dengan burung dan juga lantai jemurnya (kalau sering meletakkan burung di lantai) dsb.

Siklus hidup kutu burung
Siklus hidup kutu burung

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

B. Pengobatan:

1. Sebelum melakukan pengobatan, pastikan burung dalam kondisi sehat secara umum. Jangan melakukan pengobatan anti-kutu ketika burung sakit pilek dsb karena pada saat itu daya tahan burung sedang lemah. Dalam kondisi ini, kalau burung diterpa obat anti kutu dia akan mudah ngedrop karena obat tersebut minimal mengandung insektisida jenis tertentu yang bisa “memabukkan” burung.

2. Memilih obat.

Obat kutu ada dua. Kimiawi dan non-kimiawi.

a. Kimiawi adalah obat-obatan yang dijual secara umum dengan nama/merek yang berbeda-beda. Bentuknya juga macam-macam. Ada yang cair, serbuk juga pasta.

b. Obat yang non-kimiawi ada bermacam-macam, antara lain air rebusan daun sirih, air bekas cucian beras, air rebusan buah jambe (jarang dan sulit ditemukan) dll.

3. Penggunaan

a. Untuk penggunaan obat kimiawi, baca aturan pakai yang tertera dalam kemasan dan ikuti secara disiplin. Jangan bereksperimen untuk menambah atau mengurangi dosis yang ditentukan kecuali Anda sudah memiliki pengalaman sebelumnya atau pernah mendapat informasi dari sumber/teman yang bisa dipercaya dan pernah mengaplikasikannya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Perhatian: Untuk obat kimiawi, gunakan sebagaimana peruntukannya. Jangan gunakan obat kutu untuk anjing misalnya pada burung. Antikutu untuk hewan besar sangat beda konsentrasi zat beracunnya dibanding untuk burung. Kalaupun Anda akan mengurangi dosisnya dengan cara kira-kira, maka akan berisiko tetap kebanyakan (bisa menyebabkan burung kelenger…) atau kurang (bisa menyebabkan pengobatan tidak efektif dan juga membuat kutu resisten/kebal sehingga semakin sulit dibasmi).

b. Untuk pengobatan secara non-kimiawi:

Baca juga  Berak kapur sangat menular dan berbahaya bagi burung

i. Air daun sirih: rebus 7-10 helai daun sirih dengan air sebanyak 1 liter (4 gelas ukuran normal). Setelah direbus sampai air berwarna hijau gelap (1 liter) diangkat dan didinginkan Air itu bisa disemprotkan ke burung secara merata dan usahakan benar-benar bisa masuk sampai ke bulub terdalam. Paling aman, burung dipegang dan dimandikan secara langsung di tangan sehingga air sirih merata membasahi bulu tanpa banyak mengenai mata burung (kalaupun kena juga nggak apa-apa asal tidak keterpa terus-menerus). Setelah dimandikan air sirih, jangan dibilas dulu sampai sekitar 1-2 jam (agar kutu dan telornya benar-benar “tahu rasa deh” hehehe).

ii. Untuk air bekas cucian beras, gunakan sama dengan cara untuk air rebusan daun sirih. Sebenarnya, air cucian beras tidak bersifat racun tetapi bisa menembus lapisan lilin pada bulu burung. Artinya, dia hanya bersifat “merontokkan” /melepaskan “pegangan” telor dan kutu pada bulu burung. Dengan demikian, penggunaan air cucian beras harus dibarengi dengan upaya melepaskan kutu secara manual dari bulu (dengan cara ditekan dan seret bulu burung). Artinya, penggunaan air cucian beras bisa dikombinasikan dengan penggunaan air sirih sehingga pembasmian kutu benar-benar efektif.

C. Pembasmian parasit burung secara menyeluruh

Sebenarnya yang disebut “kutu” adalah mengacu pada berbagai artropoda berukuran kecil hingga sangat kecil (wikipedia.com). Nama ini dipakai untuk sejumlah krustasea air kecil (seperti kutu air), serangga (seperti kutu kepala dan kutu daun), serta — secara salah kaprah — berbagai anggota Acarina (tungau dan caplak, yang berkerabat lebih dekat dengan laba-laba daripada serangga). Semua disebut “kutu” karena ukurannya yang kecil. Dengan demikian, pengertian awam istilah ini tidak memiliki arti taksonomi.

Dalam arti lebih sempit, kutu adalah serangga yang tidak bersayap dan berukuran kecil, yang dalam bahasa Inggris mencakup flea (kutu yang melompat, ordo Siphonaptera) dan louse (kutu yang lebih suka merayap, kebanyakan ordo Phtiraptera yangn semuanya adalah parasit). Dalam bahasa Indonesia keduanya tidak dibedakan, malah mencakup juga sebagian dari kerabat wereng (ordo Hemiptera) dan beberapa anggota ordo Coleoptera. Untuk menjelaskan, diberi keterangan di belakang kata “kutu”. Para biologiwan berusaha mendayagunakan kata tuma bagi kelompok Phtiraptera, walaupun menyadari terdapat kesulitan dalam penerapannya.

Berkaitan dengan aneka jenis serangga yang sebenarnya juga menjadi pengganggu burung, seperti caplak dan gurem (kremi) sebagai bentuk serangga yang lebih suka merayap dan bersifat parasit, sebaiknya kita memilih antikutu yang bisa mengatasi berbagai gangguan tersebut.

Baca juga  Usir parasit, burung bawa puntung rokok ke sarang

Saat ini telah diproduksi anti-kutu yang aman untuk burung tetapi manjur untuk membasmi bergagai jenis kutu, termasuk juga semut, parasit lain serta jamur (fungi) dan juga bisa digunakan sebagai antiseptik. Antikutu tersebut adalah FreshAves. Sesuai namanya, FreshAvesditujukan untuk membuat burung fresh atau segar karena terbebas dari semua jenis serangga pengganggu seperti kutu burung, caplak, tungau, gurem, semut dan parasit pengganggu lainnya.

FreshAves mengandung permethrine dan piperonyl butoxide. Permethrine dikenal sebagai pestisida yang aman yang sudah diujikan untuk penyemprotan nyamuk demam berdarah di berbagai wilayah di Indonesia. Berdasar ujicoba tersebut, permethrine terbukti mempunyai aktivitas insektisidal yang sangat tinggi baik untuk lalat, nyamuk, kutu dan insekta pengganggu yang lain, baik terhadap kecepatan kerja maupun efek residualnya. Dan yang lebih penting lagi, aman untuk hewan peliharaan dan manusia.

Sedangkan piperonyl butoxide merupakan sinergis dari permethrine, yakni berfungsi meningkatkan daya racun. Perlu diketahui, (zat) sinergis dalam insektisida bisa jadi tidak beracun tetapi bisa meningkatkan daya bunuh terhadap obyek. Contoh sinergis ini, selain piperonyl butoxide adalah sesamin (minyak yang berasal dari biji wijen).

Dengan kandungan seperti itu, FreshAvesl sangat tepat untuk digunakan sebagai pembasmi kutu dan segala parasit pengganggu burung Anda.

Waspadai cacing (Ascaridia galli) pada burung

Sebagai penghobi burung, Anda harus selalu diingatkan untuk mewaspadai ancaman cacing pada burung Anda. Tidak ada keraguan bahwa cacing menimbulkan risiko buruk yang nyata untuk kesehatan burung peliharaan.

 

Ada banyak cacing yang bisa menyerang bangsa burung dan unggas, yakni cacing pita (unggas besar) dan cacing bulat (banyak menyerang burung). Khusus cacing yang banyak menyerang unggas (seperti ditulis dalam komunitas-dokterhewan.blogspot.com) atau burung adalah Ascaridia galli yang memang selain berparasit pada jenis unggas seperti kalkun, itik dan angsa, juga pada burung. merupakan cacing yang sering menimbulkan kerugian ekonomik tinggi, sebab cacing ini menimbulkan kerusakan parah selama bermigrasi pada fase jaringan dari stadium perkembangan larva. Migrasi terjadi dalam lapisan mukosa usus dan menyebabkan pendarahan, apabila lesi yang ditimbulkan parah maka kinerja burung akan turun drastis. Burung yang terserang akan mengalami gangguan proses digesti dan penyerapan nutrient sehingga dapat menghambat pertumbuhan. Dalam siklus hidup Ascaridia galli tidak memerlukan hospes intermediar, dan menular melalui pakan, air minum atau bahan lain yang tercemar oleh kotoran atau feses yang mengandung telur infektif.

Burung muda lebih sensitif terhadap kerusakan yang ditimbulkan Ascaridia galli. Sejumlah kecil cacing Ascaridia galli yang berparasit pada burung dewasa biasanya dapat ditolerir tanpa adanya kerusakan tertentu pada usus. Namun infeksi dapat menimbulkan penurunan berat badan. Dalam kondisi yang berat, dapat terjadi penyumbatan pada usus. Burung yang terinfeksi Ascaridia galli dalam jumlah besar akan kehilangan darah, mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus, gangguan pertumbuhan, dan peningkatan mortalitas.

Gejala-gajala burung cacingan adalah kelihatan lesu dan pucat, mafsu makan berkurang, beraknya mencret, berlendir dan berwarna keputih-putihan seperti kapur, sayap menggantung dan warna bulunya kusam; serta kalau anakan, pertumbuhan badan terlambat.

Sementara itu ada beberapa obat cacing di pasaran – yang aman dan efektif – namun beberapa di antaranya tidak begitu aman, dan yang lain bahkan sangat berbahaya.

Pemberian obat cacing untuk burung di penangkaran hukumnya “wajib” terutama sebelum indukan kawin dan induk betina bertelur. Jika hal itu tidak dilakukan, bisa jadi burung yang Anda besarkan dengan kita suapi sendiri setelah dipisah dari indukan, akan mati bahkan sebelum mereka sempat kita beri pakan.

Bagaimana mungkin burung anakan yang bahkan belum kita beri pakan bisa cacingan? Seorang dokter hewan di Australia sebagaimana ditulis dan vetafarm.com mengatakan bahwa telur cacing ditransfer indukannya kepada burung anakan ketika kali pertama mereka menyuapi anakannya. Jika lantai kandang burung mengandung telur cacing, maka dipastikan indukannya “memindah” telur cacing itu ke anakan mereka.

Sekali telur cacing menetas di perut anakan burung, maka hanya dalam waktu 5-6 minggu, cacing tersebut sudah menjadi dewasa dan siap beranak-pinak.

 

Meskipun demikian disarankan agar pemberian obat cacing dilakukan secara kontinyu berkesinambungan. Misalnya, Anda harus memberinya obat cacing ketika burung mulai tumbuh bulu jarumnya, ketika bulu sayap mulau lengkap dan seterusnya. Bahkan kalau perlu kontinyu diberikan setiap bulan karena pada dasarnya cacing bisa masuk ke tubuh burung setiap saat.

Jangan sampai Anda terlena, misalnya hanya karena lantai kandang Anda terbuat dari cor-coran semen atau lantai bersemen, sebab telur cacing bisa masuk dari pakan yang kita berikan.

Obat cacing apa?

Kalau dalam tulisan terdahulu saya menyarankan Anda bisa memberikan obat cacing umum untuk unggas atau bahkan obat cacing untuk manusia, maka hal itu bisa dilakukan dalam kondisi terpaksa. Namun sebagai penghobi burung, Anda sebaiknya selalu menyediakan obat cacing khusus untuk unggas, khususnya burung.

Dalam hal ini saya menyarankan penggunaan AscariStop untuk burung Anda. Mengapa? Sebab AscariStop yang dalam kandungannya terdapat zat aktif piperazin citrate memang dibuat dan dikemas untuk burung.

Banyak zat aktif yang bisa membunuh atau melumpuhkan cacing seperti higromisin B dan kumafos, namun untuk kedua zat ini digunakan secara khusus jika cacingan dalam kondisi akut karena keduanya mengandung antibiotika yang pemberiannya memerlukan nasihat dokter hewan. Sementara piperazin citrate memiliki efek narkotika sehingga cacing dapat dikeluarkan dalam keadaan hidup oleh adanya peristaltic usus burung. Dan penggunaannya bisa kita lakukan sendiri selama kita menurut petunjuk yang diberikan di dalam kemasan AscariStop.

Sekali lagi, lakukan pemberian AscariStop secara rutin karena setiap saat bisa saja ada telur cacing masuk bersama pakan atau air yang dikonsumsi burung kesayangan kita.

Baca juga  Jika drakula bernama tungau merah mengintai burung Anda

 

Mengenal Premature Mortality Syndrome burung tangkaran

Anda pernah menjumpai anakan kenari atau burung apapun pasca menetas kondisinya tampak baik tetapi tiba-tiba ditemukan mati? Bisa jadi dia ditemukan mati di luar sarang maupun di dasar sangkar. Yang jelas, kondisi ini menjadikan penangkar panik dan bingung. “Loh sehat-sehat begini kok tiba-tiba mati ya,” begitu tanyanya di dalam hati.

 

Ya, itulah yang disebut Premature Mortality Syndrome (PMS) atau sindrom kematian usia dini pada burung.

Banyak hal bisa dikemukakan sebagai alasannya. Ada yang menyebutkan karena anakan itu terbawa oleh indukan yang turun dari sarang sementara dia masih terjepit di sayap indukan. Atau mungkin Anda menduga bahwa karena sarang terlalu sempit maka anakan terjerembab ketika sedemikian bersemangatnya minta pakan dari indukan.

Hmmm, banyak alasan bagus mengapa untuk memberikan alas an mengapa anakan burung ditemukan sudah mati dalam kondisi dingin di lantai sangkar. Ada yang pula menyebutkan hal itu karena disebabkan terlalu banyak konsumsi protein, ada yang menyebutkan karena kurang lampu untuk pemanas dan ada juga yang menyebutkan karena kondisi sarang yang basah dan sebagainya dan sebagainya.

Sekarang, dari sekian dugaan itu, apa penyebab pasti anakan burung mati muda? Kalau disebabkan kurang pemanasan, tidak masuk akal karena anakan burung yang masih disuapi indukannya akan selalu mendapat panas dari badan indukannya. Kalau disebut karena sarang menjadi basah, lha memangnya indukan membawa minuman dari wadah minum untuk kemudian ditumpahkan ke sarang tempat anak-anak mereka berkumpul?

Donal Perez, penangkar gloster kawakan yang menulis di nationalbirddesigns.com, menyatakan “bukan itu semua penyebabnya”. Lantas apa? “Karena penyebab utamanya ada di dalam tubuh indukan itu sendiri,” tegasnya.

Bagian dalam sarang menjadi basah, katanya, karena sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi. Ya, kantung tinja dari anak-anak burung sobek karena sesuatu telah terjadi di dalam sarang. Semuanya bermula dari kondisi pencernaan burung indukannya!! Pencernaan indukannya? Ya, tidak peduli jenis pakan apa yang Anda berikan kepada burung Anda; juga tidak peduli sebaik apapun kualitas pakan yang Anda berikan kepada burung, selama di dalam pencernaan indukan tidak terjadi proses asimilasi pakan yang seharusnya berjalan normal, maka semua petaka itu tetap akan terjadi.

Baca juga  Harga burung

Jika proses asimilasi semua sari makanan di dalam tubuh indukan tidak berjalan normal, maka terjadilah penumpukan bakteri pathogen yang sangat beracun baik di dalam tubuh indukan maupun anakan kenari. Donal Perez sampai pada kesimpulan itu setelah dia belajar selama 30 tahun pada berbagai ujicoba dalam penangkaran besar kenarinya. Kesuksesan dia bisa dilihat di www.houseofcrests.com atau jawara-jawara kenari glosternya di www.houseofcrests.com.

Dia mengingatkan dan menggarisbawahi, bahwa semua keturunan dari burung kenari yang kita temukan saat ini adalah keturunan atau hasil sebuah rekayasa di penangkaran. Apa yang dia maksudkan? Sejak manusia menciptakan semua keturunan kenari tersebut, ada faktor lain yang bermain di dalamnya, seperti seleksi kualitas maupun seleksi jenis (kenari) indukan dalam penjodohan. Semuanya adalah sebuah proses rekayasa untuk tujuan yang dirasa baik oleh para penangkar. Mengapa disebut rekayasa?

Lima varietas kenari

Pertama-tama, apakah Anda tahu bahwa ada lima “varietas” burung kenari dewasa ini? Varietas pertama adalah varietas lagu (song variety) yakni hasil pengembangan kenari untuk menghasilkan kenari dengan kemampuan bernyanyi yang bagus dan sedikit banyak mengabaikan masalah warna burung tersebut. Varietas kedua adalah varietas kenari warna (color bred variety) yang merupakan hasil pengembangbiakan yang mengejar kualitas warna dengan sedikit banyak mengabaikan keindahan nyanyian si kenari. Varietas ketiga adalah kenari postur (canary of posture) yakni kenari yang dikembangkan dengan sedikit memperhatikan warna bulu dan sama sekali mengabaikan masalah lagu. Varietas keempat adalah kenari bagal atau hybrid (the mule and hybrid canaries) yakni kenari hasil persilangan antara kenari dengan burung jenis finch lainnya untuk menghasilkan keturunan yang memiliki sifat tertentu yang menonjol, apakah itu di masalah warna, lagu, postur, atau kombinasi  di antara tiga varietas yang disebut sebelumnya (ini contohnya adalah persilangan lizard dengan yorkshire, atau yorkshire dengan blacktrouth dan sebagainya). Varietas kelima adalah varietas hasil persilangan dari semua ragam varietas di atas yang direkayasa bukan untuk tujuan khusus karena yang penting “bisa memuaskan” hasrat orang yang menangkar untuk bisa meghasilkan burung, apapun jenisnya. Dengan kata lain, lima varietas kenari di atas adalah jenis kenari yang bisa disebut atau diakitkan sebagai hasil mutan dan blasteran.

 

Dalam penjelasan berikutnya, Donal Perez sampai pada kesimpulan bahwa ketika orang menangkar burung, yang mereka perhatikan adalah masalah “hasil” anakannya. Penangkar kadang tidak mau menyadari bahwa di alampun telah terjadi proses alamiah ketika burung harus mempertahankan keturunan justru dengan “membunuh” anak mereka sendiri. Lalu apa hubungannya dengan kematian usia dini anak-anak burung (premature mortality syndrome) yang dalam ulasan Donal Perez lebih dikhususkan pada kenari?

Baca juga  PET BIRD PERSONALITIES (8): Macaws, Mynahs

Indukan membunuh anak sendiri

Oke, saya (Om Kicau) akan mencoba menjelaskan dengan bahasa saya sendiri tentang apa yang dijelaskan Donal Perez tersebut. Intinya adalah begini:

Di alam liar sana, burung yang merasa anakan-anakannya akan menjadi burung-burung yang lemah dan pada akhirnya, justru akan membiarkan keturunanya itu mati ketika mereka masih anak-anak. Caranya, dengan sengaja tidak memberi pakan yang cukup. Ketika ada anakan yang lemah, kadang indukan malah tidak memberinya pakan dan justru terus memberi pakan kepada anakan-anakan yang kuat, yakni yang langsung membuka paruh ketika indukan datang untuk menyuapi mereka.

Insting indukan berkata bahwa dia hanya perlu membesarkan anak-anaknya yang kuat yang bisa meneruskan keturunan. Sementara yang lemah, akan dia biarkan mati karena justru mengganggu suplai pakan anakan yang kuat. Lantas, kalau anak-anak burung itu lemah semua, apa yang indukan lakukan? Semua tidak akan dia beri pakan yang cukup dan akan dia biarkan mati semua.

“It makes no sense for the parents to feed the weaker chicks for their genetic makeup should it survive make it a candidate that someday would mate and pass on those defective genes to the species… Think about it for a minute. They instinctively know to do this,” tegas Donal Perez. Ya, menurut Donal Perez, bahwa tidak masuk akal bagi indukan untuk meperpanjang usia anak-anak mereka jika anak-anak mereka pada akhirnya hanya akan mewariskan gen-gen lemah dan rusak kepada keturunan berikutnya.

Penjelasan Donal Perez ini sejalan benar dengan hipotesis saya yang pernah saya tulis di omkicau.com ini. Cek misalnya tulisan saya yang berjudul: Ketika indukan makan anak sendiri.

Masalahnya adalah mengapa anak-anak burung itu menjadi lemah kalau diasumsikan kekurangan pakan padahal mereka hidup di penangkaran? Ya, itulah tanggung jawab para penangkar untuk memperhatikan bukan hanya kecukupan pakan dan nutrisi untuk burung mereka. Lantas apa? Ya, menurut Donal Perez, lebih dari sekadar kecukupan pangan, MAKA BURUNG HARUS BISA MENCERNA MAKANAN SECARA SEMPURNA.

Baca juga  Mario “The Amazing” Blanco, penangkaran jalak bali dan kakatua raja

Kunci dari semua itu adalah bahwa kita harus bisa menciptakan lingkungan yang sesuai untuk proses asimilasi dan penyerapan sari makanan di dalam usus burung. Caranya? DENGAN MENGURANGI POPULASI MIKROBA PATOGEN YANG POTENSIAL MENGGANGGU PROSES ASIMILASI TOTAL DI DALAM PENCERNAAN BURUNG.

Ya, penyebab stress pada burung sangat beragam. Selain lingkungan, virus, nyamuk dan parasit yang berada di luar maupun di dalam tubuh burung, maka hal fundamental lainnya adalah masalah pernafasan dan pencernaan. Dalam kaitannya dengan pencernaan ini, tidak peduli seberapa banyak uang yang kita belanjakan untuk produk-produk makanan untuk burung-burung kita, jika muncul gangguan mikroba patogen dalam sistem pencernaan burung, maka masalah akan tetap timbul.

Apa, mengapa dan bagaimana mikroba pathogen mempengaruhi kesehatan burung? Untuk hal ini silakan Anda baca serial tulisan saya yang berjudul: Pemanfaatan Probiotik untuk Peternakan (dua tulisan).

Mengakhiri tulisan ini, saya hanya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa apapun makanannya dan apapun jenis burung Anda, yang sangat penting diperhatikan juga apa asupan yang dikonsumsinya. Bisa jadi burung Anda perlu probiotik, tetapi ingat juga apa dan bagaimana seharusnya pemberian vitamin dan mineral yang perlu dibarengkan dengan pakan kesehariannya.

Salam sukses.

waspada penyakit burung Psittacosis

Banyak penyakit yang menjangkiti burung yang perlu kita waspadai. Salah satunya adalah psittacosis. Apa itu? Psittacosis, menurut dokumentasi dalam New South Wales Multicultural Health Communication Service (mhcs.health.nsw.gov.au) adalah penyakit langka yang biasanya ditularkan burung kepada manusia dan disebabkan oleh kuman yang bernama Chlamydia psittaci.

 

Sedangkan menurut health.detik.com yang mengutip medlineplus, istilah psittacosis berasal dari kata Yunani untuk menyebut kakaktua atau psittakos. Orang yang kali pertama mempopulerkan istilah ini di bidang kesehatan adalah Morange pada tahun 1892.

Berikut ini tanya jawab dan penjelasan yang saya kutip dari dokumen mhcs.health.nsw.gov.au mengenai psittacosis:

Bagaimana penyebaran penyakit ini?
Pada umumnya infeksi terjadi kalau orang menghirup kumannya – biasanya dari kotoran kering burung yang terkena infeksi. Orang juga dapat terkena karena berciuman ‘mulut dan paruh’ dengan burung atau menangani bulu dan sel badan burung yang terkena penyakit. Tidak ada bukti bahwa Psittacosis menular di antara sesama manusia.

Baca juga  Ancaman cacing (Ascaridia galli) jangan dianggap enteng

Semua jenis burung rentan terhadap infeksi tapi yang dipelihara (misalnya beo, betet dan kakaktua) dan unggas (kalkun dan bebek) adalah yang paling sering menularkan penyakit ini pada manusia.

Orang yang paling menghadapi bahaya infeksi psittacosis adalah mereka yang sering bersentuhan dengan burung karena pekerjaan atau kegemarannya misalnya pemilik burung, karyawan toko burung, dokter hewan atau penjagal unggas.

Bagimana gejala psittacosis?
Selang waktu dari saat seorang yang terkena kuman dan perkembangan gejalanya tidak menentu, yakni antara 4-15 hari.

Orang yang terkena sering menjadi sakit mirip selesma dan tiba-tiba kena serangan demam, gerah, sakit kepala, lemah dan nyeri otot. Juga mungkin timbul batuk kering, sakit dada dan sulit bernapas. Jika parah, paru-paru bisa meradang.

Bagaimana diagnosa dan pengobatannya?
Jika dokter menduga Anda terkena penyakit ini, ujicoba darah dapat dilakukan untuk meneguhkannya. Pada potret sinar X sering terlihat adanya radang paru-paru.

Psittacosis bisa diobati dengan antibiotika yang harus terus diminum selama 2 pekan.

 

Mencoba memastikan dari mana asal infeksi ini, sangatlah penting. Orang lain yang mungkin telah bersentuhan dengan burung yang terinfeksi perlu menyadari gejala infeksinya. Ketika burung juga diobati maka lingkungannya juga harus dibersihkan dengan pembasmi kuman guna mencegah infeksi lebih lanjut tersebar kepada orang atau burung lain.

Baca juga  Gejala serangan cacing pada burung merpati dan kicauan mirip CRD

Bagaimana tanda atau cirri burung terkena psittacosis?
Pada burung gejalanya tidak tentu dari mulai tidak ada tanda-tanda khusus hingga menunjukkan gejala sakit yang mematikan. Pada burung bisa terlihat gejala seperti mencret, lemah, bulu kusut, tidak mau makan dan mata atau hidungnya berair.

Sementara itu burung tersebut juga harus dipisahkan lalu diobati dengan antibiotika dan kuman di sangkarnya dibasmi.

Sehubungan kesulitan mendeteksi apakah seekor burung terinfeksi penyakit ini atau tidak, maka kita perlu selalu merawat secara baik kebersihan burung dan lingkungannya, sementara kita juga perlu mencuci tangan sehabis menangani burung peliharaan.

Juga, hindarilah “berciuman” mulut dan paruh dengan burung. Burung sebaiknya dikurung di dalam sangkar bersih, berukuran luas serta diselaputi kertas koran yang sering diganti. Kotoran burung jangan sampai bertumpuk, mengering dan menjadi debu beterbangan. Basahilah dulu kotoran dan sangkarnya sebelum dibersihkan.

Demikian sekilas pengenalan atas penyakit psittacosis yang bisa menyerang burung dan menular kepada manusia.

Mengatasi burung sakit, ngantukan dan tak mau makan

 

Banyak sekali keluhan yang disampaikan kepada saya mengenai kondisi burung yang sakit. Umumnya, para penghobi burung tidak bisa menjelaskan secara pasti sakit apa burung mereka. Ada yang hanya menyebutkan burung nyekukruk, burung mengembang bulunya, burung cuma tidur alias ngantukan, burung pilek, burung batuk-batuk atau burung bersin-bersin, atau juga cuma menduga-duga burung cacingan, kreminan, burung kena kutu (kutuan) dan sebagainya.

Kalau misalnya dia menduga burung cacingan (burung diserang cacing)  juga tidak bisa menyebutkan ciri-cinya. Kadang cuma dibilang burung mencret, burung beraknya putih, burung beraknya caik, dan sebagainya. Memang harus kita akui, diagnosa yang tepat untuk burung sakit harus tepat sehingga teopat pula  pemberian obatnya.

Banyak sekali saat ini beredar obat untuk bangsa burung atau unggas di pasaran.  Hanya saja, kebanyakan adalah obat untuk ayam atau jenis unggas yang biasa dipelihara orang. Obat khusus burung atau obat burung, tidak banyak diproduksi di dalam negeri. Kalau ada yang memproduksi, biasanya hanya berupa suplemen burung dengan iming-iming burung gacor, burung berkicau terus, dan juga dijanjikan bisa membuat burung macet bunyi menjadi bunyi gacor owor-owor.

Baca juga  Produk Om Kicau kini hadir langsung di Cilacap dan Samarinda

Malah ada beberapa di antaranya yang sifatnya perangsang bunyi burung. Ya, sifatnya sekadar doping — doping burung, yang akibatnya sering fatal. Suara burung bisa menjadi mengecil, suara burung bisa hilang, bahkan burung tak bisa bersuara. Kadang-kadang akibatnya lebih fatal lagi, burung mati, burung KO sia-sia.

Begitu juga untuk vitamin burung, banyak mereka yang menggunakan vitamin untuk ayam, baik itu vitamin tunggal maupun multivitamin (multi vitamin). Demikian juga dengan mineral burung, banyak yang menggunakan mineral untuk ayam sebagai mineral untuk burung, baik yang hanya beberapa mineral maupun multimineral.

 

Berkaitan dengan hal itulah, saya mencoba mencari dan mencari dari berbagai produsen obat-obatan untuk hewan ternak dan saya mintakan formula khusus obat untuk burung. Lebih tepatnya lagi adalah formula obat yang tidak hanya mengobati tetapi juga menjaga stamina burung tetap terjaga.

Baca juga  Setelan pakan ekstra (EF) untuk burung kicauan ala SmartMastering

Di luar masalah itu, ada ancaman yang nyata terhadap kesehatan burung yang selama ini kurang menjadi perhatian. Ya, tidak lain tidak bukan adalah kutu burung dan cacing burung.

Burung yang terlihat sakit-sakitan, nyekukruk, burung keluar air dari matanya (mata berair atau rembes) misalnya, kadang disebabkan oleh serangan cacing.  Kadang pula, hal itu disebabkan oleh infeksi yang ditimbulkan oleh luka akibat gigitan kutu burung.

Oke, dalam melayani keinginan penghobi dan penangkar burung akan kesehatan dan top performa burung, Om Kicau sudah meluncurkan  beberapa produk kesehatan dan pencegahan penyakit untuk burung. Produk itu memang dikhususkan untuk burung mulai anis merah, anis kembang, branjangan, cucak ijo (cucak hijau), cucakrowo (cucak rawa), pentet, kenari (dan berbagai jenis finch lain), paruh bengkok seperti lovebird (love bird /LB), nuri, kakaktua, parkit dan juga burung peliharaan kesayangan seperti beo dan burung-burung lainnya.

Manfaat Antibiotik Untuk Burung

Antibiotik digunakan terutama untuk pengobatan, sedangkan pentingnya antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan merupakan kebutuhan sekunder. Yang dimaksud dengan antibiotik adalah suatu zat yang dibuat oleh organisme hidup, terutama fungi dan bakteri, yang dapat menghalang-halangi atau mematikan bakteri atau fungi yang dianggapnya lawan.

Antibiotik dapat dipergunakan untuk pengobatan maupun sebagai pemacu pertumbuhan. Berdasar luas efektifitas kerjanya, antibiotik dapat dibagi menjadi 2 golongan.

Pertama, golongan narrow spektrum antibiotic, yaitu antibiotik yang berkhasiat terhadap sekelompok mikroba saja. Misalnya, penicillin hanya efektif terhadap bakteri gram positif, sedangkan streptomycin efek kerjanya terutama terhadap bakteri gram negatif.

Golongan kedua adalah broad spectrum antibiotic, yaitu antibiotik yang berkhasiat baik terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif. Sebagai contoh adalah tetracyclin dan chloramphenicol. Sampai saat ini penelitian mengenai antibiotik masih terus berlangsung, terutama untuk mendapatkan antibiotik yang lebih manjur, aman dan dapat membunuh ricketsia, protozoa, golongan fungi dan anti neoplastika. Usaha ini dilakukan karena kini banyak kuman yang resisten terhadap antibiotik.

Antibiotik yang banyak digunakan dalam pengobatan antara lain: penicillin, golongan amino glikosida (mencakup streptomycin, gentamycin, kanamycin, paramomycin dan neomycin), chloramphenicol, tetracyclin, golongan makrolida dan fungistatika.

Antibiotika pemacu pertumbuhan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibiotika tertentu (misalnya : chlortetracyclin, oxytetracyclin dan penicillin), bila dicampurkan dalam ransum akan memacu pertumbuhan dari hewan-hewan muda. Hal ini berkaitan dengan mekanisme kerja antibiotik sebagai berikut: antibiotik dapat secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yang merusak zat-zat makanan.

Sementara mikroorganisme tersebut mampu membentuk zat-zat esensial bagi burung, misalnya beberapa asam amino. Antibiotik juga dapat menghalangi pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi amonia dalam jumlah banyak dalam saluran pencernaan.

Misalnya trimethylamin, suatu amonia yang merupakan racun untuk menghalangi laju pertumbuhan burung. Antibiotik dapat mempertinggi penyerapan dari berbagai zat makanan, seperti Ca, P dan Mg.
Sebagai akibat dari mekanisme perbaikan penyerapan beberapa zat makanan tersebut, antibiotik dapat menghemat beberapa zat makanan. Ini terjadi melalui pengaruh penipisan dinding saluran pencernaan.

Antibiotik juga mampu mempertinggi konsumsi makanan atau air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa caecum dari anak ayam yang diberi antibiotik biasanya lebih besar dan berisi ekskreta basah lebih banyak daripada caecum anak ayam yang diberi ransum sama tanpa antibiotik.

Antibiotik yang sering dicampur dalam pakan selain yang disebutkan di atas adalah basitracin, neomycin, streptomycin, tylocin, erytromycin, oleondomycin, bambermycin dan spiramycin.

Tetapi akibat penggunaan antibiotika pada hewan juga perlu diperhatikan. Sebab, adanya residu obat di dalam bahan asal hewan yang dikonsumsi manusia dikhawatirkan dapat menimbulkan resistensi kuman terhadap antibiotik.

Mengatasi Pentet mbagong dan galak

Saya punya pentet Gsal gresik umur sekitar 2 tahun,  sedang ganti bulu,   kondisi normal, bulu ekor tak cabuti habis.. Yang kurang normal mbagong kalau ada orang yang mendekat. Dia langsung mengejar, nabrak-nabrak kurungan… Bagaimana baiknya, apa disembilih saja….

Jawab

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Jangan disembelih. Disate pun dagingya kecil, kalau setelah disembelih lalu dibuang, juga bikin tong sampah bau, hehehehehe. Kalaupun mau disembelih dan diawetkan juga nggak bagus karena kondisi bulu nggak bagus ya khan, heheheheh.

Baca juga  Tips melatih mental burung cendet sejak anakan atau masih muda

Ya rawat saja karena kondisi sepeti itu banyak terjadi pada burung yang tidak fit karena sedang mabung.

Coba beri pakan full protein, seperti kroto atau jangkrik. Beri pakan sampai nggak mau makan lagi. Kemungkinan sudah nggak nabrak2 lagi.

Salam,

Musim hujan dihadapi dengan Vitamin

Untuk antisipasi musim penghujan, saya membeli Vitasol untuk vitamin dan Marvel Aid untuk burung sakit. Yang mau saya tanyakan bagaimana takaran/cara pemberian yang efektif & efisien dari Vitasol & Marvel Aid tersebu?

Jawab saya:

Vitasol itu kandungannya air, Polysorbate 80, Glycerin, Vitamin A Palmitate, Niacinamide, Choline Chloride, Cholecalciferol (Source of vitamin D3), d-Pantothenyl Alcohol, Riboflavin-5′-Phosphate, Pyridoxine Hydrochloride, Thiamine Hydrochloride, Potassium Sorbate (A Preservative). Intinya adalah multivitamin. Kalau Marvel Aid itu antibotik. Cara pemberian dan takaran Vitasol & Marvel Aid ikuti petunjuknya saja.

Baca juga  Harga burung

Selanjutnya, Vitasol adalah obat bird cage (burung piaraan), sedangkan AD Plex adalah multi vitamin untuk konsumsi manusia. Jelas beda meski komposisinya barangkali banyak yang sama karena sama-sama vitamin. Pemberian AD Plex: dua tetes untuk satu wadah air ukuran sedang.

Semuanya adalah produk (lisensi) luar negeri yang awalnya dibuat untuk burung-burung yang berdiam di kawasan dengan empat musim.

Ya kalau saya sih cenderung menyarankan pakai BirdVit (update 2013 – atau TestoBirdBooster) untuk suplemen burung tropis. Bisa mengubah burung ngoss menjadi josss hehehe, untuk lovebird, kenari dan semua jenis burung tropis lain.

Baca juga  Gambar Daun Perah

 

Sedangkan untuk antibotik, ya lebih gandos lagi pakai BirdBlown atau BirdTwitter atau BirdFirstAid tergantung bagaimana kondisi burung.

Agar Burung mau makan buah dan vour

Om, mau tanya kemarin saya baru beli burung kepodang di pasar burung, tapi anehnya cuma mau makan ulat sm jangkrik doang. Yang sz mau tanya, apa efek  sampingnya klo cuma mau makan 2 benda tu? Jg bgaimana caranya agar mau makan voor dan buah? Trimakasih om.

Jawaban saya atas pertanyan ini adakah: Perlu dilatih makan voer pakan burung. Caranya: Taburkan dan tekan voer di pisang atau kates. Kalau dia makan pisangnya, lama2 juga terbiasa dengan voernya dan nantinya akan mau makan voer.

Kalau itu kepodang tangkapan hutan, saya yakin dia mau makan pisang atau kates/pepaya. Kalau peliharaan sudah lama dan terbiasa hanya diberi ulat dan jangkrik, ya perlu dilatih lagi makan buah. Caranya, ya jangkrik atau ulat dikasihkan/ditekan ke buah pisang atau pepaya. Dalam tiga hari kemudian besar kemungkinan tanpa diberi jangkrik pun, kepodang akan mematuk dan makan buahnya.
Kalau sudah mau makan buah, barulah dilatih makan voer.

Sementara itu untuk melatih burung bukan pemakan buah agar mau makan voer, bisa menggunakan kroto yang dicampur voer dengan perbandingan 1-1. Semakin lama, porsi kroto dikurangi sampai akhirnya burung mau makan voer