Waspadai cacing (Ascaridia galli) pada burung

Sebagai penghobi burung, Anda harus selalu diingatkan untuk mewaspadai ancaman cacing pada burung Anda. Tidak ada keraguan bahwa cacing menimbulkan risiko buruk yang nyata untuk kesehatan burung peliharaan.

 

Ada banyak cacing yang bisa menyerang bangsa burung dan unggas, yakni cacing pita (unggas besar) dan cacing bulat (banyak menyerang burung). Khusus cacing yang banyak menyerang unggas (seperti ditulis dalam komunitas-dokterhewan.blogspot.com) atau burung adalah Ascaridia galli yang memang selain berparasit pada jenis unggas seperti kalkun, itik dan angsa, juga pada burung. merupakan cacing yang sering menimbulkan kerugian ekonomik tinggi, sebab cacing ini menimbulkan kerusakan parah selama bermigrasi pada fase jaringan dari stadium perkembangan larva. Migrasi terjadi dalam lapisan mukosa usus dan menyebabkan pendarahan, apabila lesi yang ditimbulkan parah maka kinerja burung akan turun drastis. Burung yang terserang akan mengalami gangguan proses digesti dan penyerapan nutrient sehingga dapat menghambat pertumbuhan. Dalam siklus hidup Ascaridia galli tidak memerlukan hospes intermediar, dan menular melalui pakan, air minum atau bahan lain yang tercemar oleh kotoran atau feses yang mengandung telur infektif.

Burung muda lebih sensitif terhadap kerusakan yang ditimbulkan Ascaridia galli. Sejumlah kecil cacing Ascaridia galli yang berparasit pada burung dewasa biasanya dapat ditolerir tanpa adanya kerusakan tertentu pada usus. Namun infeksi dapat menimbulkan penurunan berat badan. Dalam kondisi yang berat, dapat terjadi penyumbatan pada usus. Burung yang terinfeksi Ascaridia galli dalam jumlah besar akan kehilangan darah, mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus, gangguan pertumbuhan, dan peningkatan mortalitas.

Gejala-gajala burung cacingan adalah kelihatan lesu dan pucat, mafsu makan berkurang, beraknya mencret, berlendir dan berwarna keputih-putihan seperti kapur, sayap menggantung dan warna bulunya kusam; serta kalau anakan, pertumbuhan badan terlambat.

Sementara itu ada beberapa obat cacing di pasaran – yang aman dan efektif – namun beberapa di antaranya tidak begitu aman, dan yang lain bahkan sangat berbahaya.

Pemberian obat cacing untuk burung di penangkaran hukumnya “wajib” terutama sebelum indukan kawin dan induk betina bertelur. Jika hal itu tidak dilakukan, bisa jadi burung yang Anda besarkan dengan kita suapi sendiri setelah dipisah dari indukan, akan mati bahkan sebelum mereka sempat kita beri pakan.

Bagaimana mungkin burung anakan yang bahkan belum kita beri pakan bisa cacingan? Seorang dokter hewan di Australia sebagaimana ditulis dan vetafarm.com mengatakan bahwa telur cacing ditransfer indukannya kepada burung anakan ketika kali pertama mereka menyuapi anakannya. Jika lantai kandang burung mengandung telur cacing, maka dipastikan indukannya “memindah” telur cacing itu ke anakan mereka.

Sekali telur cacing menetas di perut anakan burung, maka hanya dalam waktu 5-6 minggu, cacing tersebut sudah menjadi dewasa dan siap beranak-pinak.

 

Meskipun demikian disarankan agar pemberian obat cacing dilakukan secara kontinyu berkesinambungan. Misalnya, Anda harus memberinya obat cacing ketika burung mulai tumbuh bulu jarumnya, ketika bulu sayap mulau lengkap dan seterusnya. Bahkan kalau perlu kontinyu diberikan setiap bulan karena pada dasarnya cacing bisa masuk ke tubuh burung setiap saat.

Jangan sampai Anda terlena, misalnya hanya karena lantai kandang Anda terbuat dari cor-coran semen atau lantai bersemen, sebab telur cacing bisa masuk dari pakan yang kita berikan.

Obat cacing apa?

Kalau dalam tulisan terdahulu saya menyarankan Anda bisa memberikan obat cacing umum untuk unggas atau bahkan obat cacing untuk manusia, maka hal itu bisa dilakukan dalam kondisi terpaksa. Namun sebagai penghobi burung, Anda sebaiknya selalu menyediakan obat cacing khusus untuk unggas, khususnya burung.

Dalam hal ini saya menyarankan penggunaan AscariStop untuk burung Anda. Mengapa? Sebab AscariStop yang dalam kandungannya terdapat zat aktif piperazin citrate memang dibuat dan dikemas untuk burung.

Banyak zat aktif yang bisa membunuh atau melumpuhkan cacing seperti higromisin B dan kumafos, namun untuk kedua zat ini digunakan secara khusus jika cacingan dalam kondisi akut karena keduanya mengandung antibiotika yang pemberiannya memerlukan nasihat dokter hewan. Sementara piperazin citrate memiliki efek narkotika sehingga cacing dapat dikeluarkan dalam keadaan hidup oleh adanya peristaltic usus burung. Dan penggunaannya bisa kita lakukan sendiri selama kita menurut petunjuk yang diberikan di dalam kemasan AscariStop.

Sekali lagi, lakukan pemberian AscariStop secara rutin karena setiap saat bisa saja ada telur cacing masuk bersama pakan atau air yang dikonsumsi burung kesayangan kita.

Baca juga  Jika drakula bernama tungau merah mengintai burung Anda

 

Mengenal Premature Mortality Syndrome burung tangkaran

Anda pernah menjumpai anakan kenari atau burung apapun pasca menetas kondisinya tampak baik tetapi tiba-tiba ditemukan mati? Bisa jadi dia ditemukan mati di luar sarang maupun di dasar sangkar. Yang jelas, kondisi ini menjadikan penangkar panik dan bingung. “Loh sehat-sehat begini kok tiba-tiba mati ya,” begitu tanyanya di dalam hati.

 

Ya, itulah yang disebut Premature Mortality Syndrome (PMS) atau sindrom kematian usia dini pada burung.

Banyak hal bisa dikemukakan sebagai alasannya. Ada yang menyebutkan karena anakan itu terbawa oleh indukan yang turun dari sarang sementara dia masih terjepit di sayap indukan. Atau mungkin Anda menduga bahwa karena sarang terlalu sempit maka anakan terjerembab ketika sedemikian bersemangatnya minta pakan dari indukan.

Hmmm, banyak alasan bagus mengapa untuk memberikan alas an mengapa anakan burung ditemukan sudah mati dalam kondisi dingin di lantai sangkar. Ada yang pula menyebutkan hal itu karena disebabkan terlalu banyak konsumsi protein, ada yang menyebutkan karena kurang lampu untuk pemanas dan ada juga yang menyebutkan karena kondisi sarang yang basah dan sebagainya dan sebagainya.

Sekarang, dari sekian dugaan itu, apa penyebab pasti anakan burung mati muda? Kalau disebabkan kurang pemanasan, tidak masuk akal karena anakan burung yang masih disuapi indukannya akan selalu mendapat panas dari badan indukannya. Kalau disebut karena sarang menjadi basah, lha memangnya indukan membawa minuman dari wadah minum untuk kemudian ditumpahkan ke sarang tempat anak-anak mereka berkumpul?

Donal Perez, penangkar gloster kawakan yang menulis di nationalbirddesigns.com, menyatakan “bukan itu semua penyebabnya”. Lantas apa? “Karena penyebab utamanya ada di dalam tubuh indukan itu sendiri,” tegasnya.

Bagian dalam sarang menjadi basah, katanya, karena sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi. Ya, kantung tinja dari anak-anak burung sobek karena sesuatu telah terjadi di dalam sarang. Semuanya bermula dari kondisi pencernaan burung indukannya!! Pencernaan indukannya? Ya, tidak peduli jenis pakan apa yang Anda berikan kepada burung Anda; juga tidak peduli sebaik apapun kualitas pakan yang Anda berikan kepada burung, selama di dalam pencernaan indukan tidak terjadi proses asimilasi pakan yang seharusnya berjalan normal, maka semua petaka itu tetap akan terjadi.

Baca juga  Harga burung

Jika proses asimilasi semua sari makanan di dalam tubuh indukan tidak berjalan normal, maka terjadilah penumpukan bakteri pathogen yang sangat beracun baik di dalam tubuh indukan maupun anakan kenari. Donal Perez sampai pada kesimpulan itu setelah dia belajar selama 30 tahun pada berbagai ujicoba dalam penangkaran besar kenarinya. Kesuksesan dia bisa dilihat di www.houseofcrests.com atau jawara-jawara kenari glosternya di www.houseofcrests.com.

Dia mengingatkan dan menggarisbawahi, bahwa semua keturunan dari burung kenari yang kita temukan saat ini adalah keturunan atau hasil sebuah rekayasa di penangkaran. Apa yang dia maksudkan? Sejak manusia menciptakan semua keturunan kenari tersebut, ada faktor lain yang bermain di dalamnya, seperti seleksi kualitas maupun seleksi jenis (kenari) indukan dalam penjodohan. Semuanya adalah sebuah proses rekayasa untuk tujuan yang dirasa baik oleh para penangkar. Mengapa disebut rekayasa?

Lima varietas kenari

Pertama-tama, apakah Anda tahu bahwa ada lima “varietas” burung kenari dewasa ini? Varietas pertama adalah varietas lagu (song variety) yakni hasil pengembangan kenari untuk menghasilkan kenari dengan kemampuan bernyanyi yang bagus dan sedikit banyak mengabaikan masalah warna burung tersebut. Varietas kedua adalah varietas kenari warna (color bred variety) yang merupakan hasil pengembangbiakan yang mengejar kualitas warna dengan sedikit banyak mengabaikan keindahan nyanyian si kenari. Varietas ketiga adalah kenari postur (canary of posture) yakni kenari yang dikembangkan dengan sedikit memperhatikan warna bulu dan sama sekali mengabaikan masalah lagu. Varietas keempat adalah kenari bagal atau hybrid (the mule and hybrid canaries) yakni kenari hasil persilangan antara kenari dengan burung jenis finch lainnya untuk menghasilkan keturunan yang memiliki sifat tertentu yang menonjol, apakah itu di masalah warna, lagu, postur, atau kombinasi  di antara tiga varietas yang disebut sebelumnya (ini contohnya adalah persilangan lizard dengan yorkshire, atau yorkshire dengan blacktrouth dan sebagainya). Varietas kelima adalah varietas hasil persilangan dari semua ragam varietas di atas yang direkayasa bukan untuk tujuan khusus karena yang penting “bisa memuaskan” hasrat orang yang menangkar untuk bisa meghasilkan burung, apapun jenisnya. Dengan kata lain, lima varietas kenari di atas adalah jenis kenari yang bisa disebut atau diakitkan sebagai hasil mutan dan blasteran.

 

Dalam penjelasan berikutnya, Donal Perez sampai pada kesimpulan bahwa ketika orang menangkar burung, yang mereka perhatikan adalah masalah “hasil” anakannya. Penangkar kadang tidak mau menyadari bahwa di alampun telah terjadi proses alamiah ketika burung harus mempertahankan keturunan justru dengan “membunuh” anak mereka sendiri. Lalu apa hubungannya dengan kematian usia dini anak-anak burung (premature mortality syndrome) yang dalam ulasan Donal Perez lebih dikhususkan pada kenari?

Baca juga  PET BIRD PERSONALITIES (8): Macaws, Mynahs

Indukan membunuh anak sendiri

Oke, saya (Om Kicau) akan mencoba menjelaskan dengan bahasa saya sendiri tentang apa yang dijelaskan Donal Perez tersebut. Intinya adalah begini:

Di alam liar sana, burung yang merasa anakan-anakannya akan menjadi burung-burung yang lemah dan pada akhirnya, justru akan membiarkan keturunanya itu mati ketika mereka masih anak-anak. Caranya, dengan sengaja tidak memberi pakan yang cukup. Ketika ada anakan yang lemah, kadang indukan malah tidak memberinya pakan dan justru terus memberi pakan kepada anakan-anakan yang kuat, yakni yang langsung membuka paruh ketika indukan datang untuk menyuapi mereka.

Insting indukan berkata bahwa dia hanya perlu membesarkan anak-anaknya yang kuat yang bisa meneruskan keturunan. Sementara yang lemah, akan dia biarkan mati karena justru mengganggu suplai pakan anakan yang kuat. Lantas, kalau anak-anak burung itu lemah semua, apa yang indukan lakukan? Semua tidak akan dia beri pakan yang cukup dan akan dia biarkan mati semua.

“It makes no sense for the parents to feed the weaker chicks for their genetic makeup should it survive make it a candidate that someday would mate and pass on those defective genes to the species… Think about it for a minute. They instinctively know to do this,” tegas Donal Perez. Ya, menurut Donal Perez, bahwa tidak masuk akal bagi indukan untuk meperpanjang usia anak-anak mereka jika anak-anak mereka pada akhirnya hanya akan mewariskan gen-gen lemah dan rusak kepada keturunan berikutnya.

Penjelasan Donal Perez ini sejalan benar dengan hipotesis saya yang pernah saya tulis di omkicau.com ini. Cek misalnya tulisan saya yang berjudul: Ketika indukan makan anak sendiri.

Masalahnya adalah mengapa anak-anak burung itu menjadi lemah kalau diasumsikan kekurangan pakan padahal mereka hidup di penangkaran? Ya, itulah tanggung jawab para penangkar untuk memperhatikan bukan hanya kecukupan pakan dan nutrisi untuk burung mereka. Lantas apa? Ya, menurut Donal Perez, lebih dari sekadar kecukupan pangan, MAKA BURUNG HARUS BISA MENCERNA MAKANAN SECARA SEMPURNA.

Baca juga  Mario “The Amazing” Blanco, penangkaran jalak bali dan kakatua raja

Kunci dari semua itu adalah bahwa kita harus bisa menciptakan lingkungan yang sesuai untuk proses asimilasi dan penyerapan sari makanan di dalam usus burung. Caranya? DENGAN MENGURANGI POPULASI MIKROBA PATOGEN YANG POTENSIAL MENGGANGGU PROSES ASIMILASI TOTAL DI DALAM PENCERNAAN BURUNG.

Ya, penyebab stress pada burung sangat beragam. Selain lingkungan, virus, nyamuk dan parasit yang berada di luar maupun di dalam tubuh burung, maka hal fundamental lainnya adalah masalah pernafasan dan pencernaan. Dalam kaitannya dengan pencernaan ini, tidak peduli seberapa banyak uang yang kita belanjakan untuk produk-produk makanan untuk burung-burung kita, jika muncul gangguan mikroba patogen dalam sistem pencernaan burung, maka masalah akan tetap timbul.

Apa, mengapa dan bagaimana mikroba pathogen mempengaruhi kesehatan burung? Untuk hal ini silakan Anda baca serial tulisan saya yang berjudul: Pemanfaatan Probiotik untuk Peternakan (dua tulisan).

Mengakhiri tulisan ini, saya hanya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa apapun makanannya dan apapun jenis burung Anda, yang sangat penting diperhatikan juga apa asupan yang dikonsumsinya. Bisa jadi burung Anda perlu probiotik, tetapi ingat juga apa dan bagaimana seharusnya pemberian vitamin dan mineral yang perlu dibarengkan dengan pakan kesehariannya.

Salam sukses.

waspada penyakit burung Psittacosis

Banyak penyakit yang menjangkiti burung yang perlu kita waspadai. Salah satunya adalah psittacosis. Apa itu? Psittacosis, menurut dokumentasi dalam New South Wales Multicultural Health Communication Service (mhcs.health.nsw.gov.au) adalah penyakit langka yang biasanya ditularkan burung kepada manusia dan disebabkan oleh kuman yang bernama Chlamydia psittaci.

 

Sedangkan menurut health.detik.com yang mengutip medlineplus, istilah psittacosis berasal dari kata Yunani untuk menyebut kakaktua atau psittakos. Orang yang kali pertama mempopulerkan istilah ini di bidang kesehatan adalah Morange pada tahun 1892.

Berikut ini tanya jawab dan penjelasan yang saya kutip dari dokumen mhcs.health.nsw.gov.au mengenai psittacosis:

Bagaimana penyebaran penyakit ini?
Pada umumnya infeksi terjadi kalau orang menghirup kumannya – biasanya dari kotoran kering burung yang terkena infeksi. Orang juga dapat terkena karena berciuman ‘mulut dan paruh’ dengan burung atau menangani bulu dan sel badan burung yang terkena penyakit. Tidak ada bukti bahwa Psittacosis menular di antara sesama manusia.

Baca juga  Ancaman cacing (Ascaridia galli) jangan dianggap enteng

Semua jenis burung rentan terhadap infeksi tapi yang dipelihara (misalnya beo, betet dan kakaktua) dan unggas (kalkun dan bebek) adalah yang paling sering menularkan penyakit ini pada manusia.

Orang yang paling menghadapi bahaya infeksi psittacosis adalah mereka yang sering bersentuhan dengan burung karena pekerjaan atau kegemarannya misalnya pemilik burung, karyawan toko burung, dokter hewan atau penjagal unggas.

Bagimana gejala psittacosis?
Selang waktu dari saat seorang yang terkena kuman dan perkembangan gejalanya tidak menentu, yakni antara 4-15 hari.

Orang yang terkena sering menjadi sakit mirip selesma dan tiba-tiba kena serangan demam, gerah, sakit kepala, lemah dan nyeri otot. Juga mungkin timbul batuk kering, sakit dada dan sulit bernapas. Jika parah, paru-paru bisa meradang.

Bagaimana diagnosa dan pengobatannya?
Jika dokter menduga Anda terkena penyakit ini, ujicoba darah dapat dilakukan untuk meneguhkannya. Pada potret sinar X sering terlihat adanya radang paru-paru.

Psittacosis bisa diobati dengan antibiotika yang harus terus diminum selama 2 pekan.

 

Mencoba memastikan dari mana asal infeksi ini, sangatlah penting. Orang lain yang mungkin telah bersentuhan dengan burung yang terinfeksi perlu menyadari gejala infeksinya. Ketika burung juga diobati maka lingkungannya juga harus dibersihkan dengan pembasmi kuman guna mencegah infeksi lebih lanjut tersebar kepada orang atau burung lain.

Baca juga  Gejala serangan cacing pada burung merpati dan kicauan mirip CRD

Bagaimana tanda atau cirri burung terkena psittacosis?
Pada burung gejalanya tidak tentu dari mulai tidak ada tanda-tanda khusus hingga menunjukkan gejala sakit yang mematikan. Pada burung bisa terlihat gejala seperti mencret, lemah, bulu kusut, tidak mau makan dan mata atau hidungnya berair.

Sementara itu burung tersebut juga harus dipisahkan lalu diobati dengan antibiotika dan kuman di sangkarnya dibasmi.

Sehubungan kesulitan mendeteksi apakah seekor burung terinfeksi penyakit ini atau tidak, maka kita perlu selalu merawat secara baik kebersihan burung dan lingkungannya, sementara kita juga perlu mencuci tangan sehabis menangani burung peliharaan.

Juga, hindarilah “berciuman” mulut dan paruh dengan burung. Burung sebaiknya dikurung di dalam sangkar bersih, berukuran luas serta diselaputi kertas koran yang sering diganti. Kotoran burung jangan sampai bertumpuk, mengering dan menjadi debu beterbangan. Basahilah dulu kotoran dan sangkarnya sebelum dibersihkan.

Demikian sekilas pengenalan atas penyakit psittacosis yang bisa menyerang burung dan menular kepada manusia.

Mengenal Berbagai jenis CACING yang mengganggu pada burung

Berbagai jenis cacing beserta akibat yang ditimbulkannya sering kali ditemukan di dalam tubuh burung. Di antaranya yang banyak dijumpai adalah cacing tenggorokan (Syngamus trachea), cacing rambut (Capillaria sp.), cacing gelang (Ascaridia sp.), dan cacing pita (Cestoda).

1) Cacing tenggorokan

Gejala: Burung tampak batuk-batuk, bersin, dan menggoyang-goyangkan kepala sambil menghilangkan lendir yang keluar dari lubang hidungnya.

Penyebab: Penyakit ini disebabkan parasit cacing tenggorokan. Cacing ini hidup di daerah tenggorokan yang dapat menyumbat saluran pernapasan sehingga dapat menyebabkan kematian.

2) Cacing rambut

Gejala: Tidak ada gejala yang khas. Gejala yang tampak hanyalah burung menderita diare. Namun, jika seekor burung terkena maka akan menjalar dengan cepat kepada seluruh penghuni sangkar tersebut sampai akhir-nya dapat mematikan seluruh isi sangkar tersebut.

Penyebab: Penyakit ini disebabkan oleh serangan cacing rambut. Infeksi cacing dapat melalui pakan, minuman, dan tanah yang tercemar oleh telur cacing. Di dalam tubuh inang, cacing hidup pada selaput mukosa usus yang menyerap sari makan melalui darah burung yang dihisapnya.

3) Cacing gelang

Gejala: Serangan cacing ini tidak menimbulkan gejala yang khas. Akibat serangan cacing ini dapat menimbulkan penyakit kurang darah (anemia) dan keracunannya pada burung inang oleh ekskresi buangan dari parasit. Demikian juga kebiasaan cacing ini menggerombol pada satu tempat dapat menyebabkan tersumbatnya usus sehingga berakibat burung inang mati.

Penyebab: Cacing gelang menjadi penyebab sakitnya burung-burung dari suku paruh bengkok, merpati, dan unggas.

Tanah yang terinfeksi cacing dapat dikeduk bagian atasnya kemudian diberikan kapur pertanian serta disemprot dengan larutan desinfektan, seperti FreshAves.

4) Cacing pita

Gejala: Cestodiosis dapat disebabkan oleh berbagai jenis cacing pita, se-perti Davainea proglottina, Raillietina sp., Amoebotaenia sphenoides, dan Choanotaenia infundibulum. Gejala umum yang tampak pada burung yang terserang cestodiosis adalah lesu, pucat, kurus, anoreksia (tidak mau makan), sedikit diare. Cestodiosis davainea dapat menye-babkan burung tampak selalu membuka paruhnya seperti kehausan, sedangkan cestodiosis raillietina dapat menyebabkan bulu burung men-jadi kasar.

Penyebab penyakit ini adalah cacing pita. Cacing pita yang terpendek adalah Davainea proglottina (0,5 mm—3 mm) dan yang terpanjang adalah Raillietina tetragona dan R. echinobothrida (25 cm).

Selain pengobatan terhadap cacing, upaya pencegahan juga perlu dilakukan. Hewan perantaranya yaitu lalat dan siput darat perlu dibasmi. Hewan ini dapat menularkan telur-telur cacing yang dimakan pada inangnya, yaitu unggas dan burung.

cari-ciri burung yang sakit

1. Mata

Pada mata keluar sekretum (cairan yang tidak normal atau tidak biasanya), berubah warna atau kecerahannya, sayu, mata dipejampejamkan, dan terjadi pembengkakan di sekitar mata.

2. Lubang hidung (nostrils)

Dari lubang hidung keluar ingus, sesuatu yang membeku sehingga menutupi nostril dan bersin-bersin atau membuka-buka paruhnya karena sesak nafas. Selain itu, bulu-bulu di sekitar nostril dan kepala pada umumnya kotor karena sering digaruk atau diusap.

3. Sayap dan bulu

Bulu tampak suram dan kusut, sayap lunglai (baik sebelah atau keduanya), perilaku menata bulu-bulu hilang atau tidak dilakukan.

4. Napsu atau perilaku makan

Napsu makan turun atau hilang, tidak pandai mematuk makanannya, dan berat badan menurun.

5. Keseimbangan

Burung tampak sempoyongan, tidak mampu atau sukar bertengger (biasanya burung ada di lantai kurungan), dan tidak suka bergerak (inaktif),

6. Sendi tulang

Pada sendi tulang terjadi pembengkakan dan berubah bentuk (deformitas, malformation).

7. Kebiasaan sehari-hari

Kebiasaan sehari-hari yang biasa dilakukan tidak dilakukan lagi, tidak suka mandi-mandi, tidak berkicau, suara kicauannya berubah, dan lain-lain.

8. Tubuh

Terdapat jendolan atau timbunan sesuatu masa di manapun pada tubuhnya.

Dari semuanya itu apabila Anda menemukan pendarahan dari manapun keluarnya adalah merupakan tanda keadan gawat darurat. Dengan demikian, Anda dianjurkan untuk segera mencari pertolongan dokter hewan. Untuk mendapatkan pertolongan sedini mungkin apabila Anda mendapatkan gejala-gejala tersebut sebaiknya cepat berkonsultasi kepada dokter hewan langganan Anda!

Apabila Anda membawa burung yang sakit tersebut kepada dokter hewan sebaiknya kurungan diselimuti kain atau kertas koran untuk mengurangi keadaan stres. Kurungannya sementara waktu tidak dibersihkan dahulu agar dokter dapat mengamati feces, tempat makan atau minum, dan sebagainya.

Mengenal berbagai penyakit pada burung

  • CIRI-CIRI BURUNG SAKIT
  • PENGENALAN PENYAKIT MELALUI FACES, URINE DAN URET
  • PERTOLONGAN PERTAMA PADA BURUNG SAKIT
  • BAHAN DAN ALAT DALAM TINDAKAN PERTOLONGAN BESERTA FUNGSINYA
  • PENYAKIT BURUNG
  • JENIS-JENIS CACING PENGGANGGU BURUNG
  • PENCEGAHAN
  • KASUS GANGGUAN UMUM BURUNG DAN PENANGANANNYA:

1. BURUNG MAKAN BULU SENDIRI

2. KAKI BERKERAK, BENGKAK, KENA CACAR

3. BURUNG TIBA-TIBA LUMPUH

4. BURUNG TERKENA SNOT

5. BURUNG SERAK, KEHILANGAN SUARA KARENA INFEKSI SALURAN PERNAFASAN

6. BURUNG KURANG GACOR DAN KURANG POWER

7. GANGGUAN REPRODUKSI: TIDAK SEGERA JODOH, TIDAK BERTELUR, TELUR GAGAL MENETAS

8. MOLTING ATAU MABUNG TIDAK TUNTAS, SULIT MOLTING, BULU BOTAK TIDAK SEGERA TUMBUH

9. KUMPULAN ARTIKEL PILIHAN