Hobi gila burung merpati

Indonesia dicap sebagai negara yang memiliki jumlah korban meninggal akibat flu burung tertinggi di dunia. Namun kenyataan ini tak membuat pencinta balap merpati meninggalkan hobinya. Bahkan kini, harga satu ekor merpati balap bisa mencapai Rp 500 juta. “Hobi merpati adalah hobi gila,” kata Kilmi, penggemar merpati aduan asal Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Surabaya memang dikenal sebagai salah satu peternakan merpati balap di Jawa Timur selain Klaten, Solo, Madiun, Tuban, dan Gresik. Tak aneh bila jumlah pencinta dan klub merpati balap di daerah ini pun menjamur. Menurut salah seorang penggemar burung aduan, menjamurnya klub ini agar peraturan dalam pertandingan menjadi jelas. “Balap merpati bener-bener fair karena burung kelihatan satu lawan satu,” tambah Kilmi.

Adu merpati biasanya dibedakan menjadi dua: balap (dasaran) dan tinggian atau yang biasa disebut dhuwuran oleh pencinta burung asal Surabaya. Dalam sejumlah turnamen, pertandingan biasanya diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut. Sebagian besar dilaksanakan pada Jumat hingga Ahad.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Pertandingan hari pertama biasanya diisi dengan kelas sprint 500 meter yang dibagi beberapa seri. Seri tertinggi adalah kumpulan merpati super yang dinamakan seri perang bintang. Ketika burung memenangkan seri ini, biasanya banyak penggemar yang mulai melirik, tapi tanpa menawar.

Pada hari kedua, diselenggarakan seri galatama 1.000 meter. Lagi, yang menjadi partai menarik di seri ini adalah perang bintang. Jika merpati yang telah memenangkan seri sebelumnya dan menjuarai seri ini, dipastikan harganya naik lagi. Terakhir, jika kembali juara pada hari ketiga, dipastikan harga sang burung telah melebihi harga mobil. “Harga di atas seratus (juta rupiah) pasti di tangan,” ungkap Kilmi.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Menangkarkan dan memelihara merpati adu memang susah-susah gampang. Selain faktor hobi, pencinta merpati juga harus mengenal seluk beluk unggas yang mampu terbang sejauh 800 kilometer dengan kecepatan maksimal 72 Km/jam ini.

Yang terutama adalah faktor keturunan. Merpati aduan yang bagus biasanya berasal dari induk yang bagus pula. Salah satu cirinya adalah yang telah memenangkan pertandingan. Selain itu, faktor mental burung juga sangat menentukan dalam pertandingan selain kondisi fisik dan bulunya.

Selain itu, perawatan merpati juga harus telaten. Pakan utama merpati adalah jagung, sesekali bisa juga diberi kacang hijau atau beras merah. Sebagai tambahan, merpati adu biasanya diberi suplemen dan jamu seminggu sekali. Terakhir, kebersihan kandang harus dijaga karena kotoran merpati bisa menjadi bibit penyakit dan disemprot disinfektan secara rutin untuk membunuh virus flu burung.(YAN)

Tim Liputan 6 SCTV

Harga burung derkuku sama dengan mobil?

DI dunia perburungan, nama komunitas burung oceh-ocehan sudah tak asing lagi. Suara burung yang lebih renyah dan lincah dengan variasi yang lebih beragam mampu menghipnotis lebih banyak orang untuk menggemari kegiatan memelihara atau bahkan menangkarkan burung ocehan.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Terlebih dengan maraknya berbagai lomba, menjadikan burung-burung seperti jalak, kenari serta berderet nama burung ocehan lain semakin naik daun. Tentu diikuti dengan harga yang makin membubung tinggi ketika burung-burung tersebut mampu menjuarai sebuah lomba.

Tapi di antara hiruk pikuk maraknya komunitas pecinta burung ocehan, kelompok penggemar burung anggungan, nyatanya tidak lantas tergulung zaman. Tengok saja, meski jumlah komunitas dan anggotanya jauh lebih sedikit, komunitas ini ternyata juga tetap eksis dan bertahan.Salah satunya adalah komunitas yang disebut dengan Persatuan Pelestari Derkuku Seluruh Indonesia (PPDSI). Komunitas ini memiliki cabang cukup luas dan merata di Indonesia. Hebatnya, pengurus pusatnya justru di DIY.

Baca juga  7 Poin katuranggan pada merpati balap

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Ditemui di sela-sela lomba derkuku tingkat nasional dalam rangkaian HUT Taman Kuliner Condongcatur, beberapa waktu lalu, Ketua PPDSI Supriyadi mengaku, keanggotaan penggemar burung anggungan termasuk derkuku memang tidak sebesar ocehan.

Tapi komunitas ini tetap eksis dan secara periodik juga menggelar kegiatan termasuk berbagai lomba tingkat daerah atau pun nasional. “Agenda rutin masih kami gelar sebagai upaya untuk tetap melestarikan burung anggungan ini sebagai warisan untuk anak cucu nanti,” katanya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Meski tidak banyak penggemar, warga Sleman ini mengatakan memelihara dan menangkarkan burung anggungan sebenarnya jauh lebih mudah. Pemeliharaannnyapun tidak serumit dan serewel burung ocehan, begitu pula dalam hal makanan. “Sangat mudah dan murah. Makanan cukup sederhana hanya beras merah diberi jewawut dan ketan hitam sudah cukup. Mandi cukup sepekan sekali dan tidak perlu disediakan bak mandi seperti ocehan. Sangat hemat bagi pemiliknya. Memberi atau mengisi tempat makan bisa berpekan-pekan sekali, coba bandingkan dengan burung ocehan,” jelasnya.

Baca juga  Memilih derkuku berdasar katuranggan dan anggung

Melatih burung anggungan agar mampu mengeluarkan bunyi bagus, juga tidak sulit. Pemilik tinggal rajin melatih dan mengerek di tiang gantungan secara rutin sudah cukup,” timpalnya.

Soal harga? Supriyadi mengatakan tidak kalah dengan ocehan. Burung anggungan yang suaranya merdu dan iramanya bagus, harganya bisa mencapai puluhan juta seperti halnya ocehan.

“Peliharaan saya bahkan pernah akan ditukar dengan mobil Panther baru. Itu artinya burung anggungan yang bagus bisa mencapai harga puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah,” lanjutnya. (aro)

adu gengsi hoby balap merpati

Jogja memang terkenal dengan komunitas hobi yang banyak sekali. Tak terkecuali dengan hobi burung merpati. Meski ada merpati yang dipelihara sebagai hewan hiasan, tetapi kebanyakan merpati di Jogjakarta diperlihara sebagai merpati aduan.
Adu merpati biasanya memang secara umum dibedakan menjadi dua: balap (dasaran) dan tinggian yang di tempat lain bisa saja disebut dengan istilah lain seperti dhuwuran (Surabaya) dan sebagainya.
Salah satu penghobi merpati aduan di Jogja adalah Margono, warga Tegalgendu, Kotagede, Jogja. Bersama Andi dan kawan-kawannya, dia biasanya melatih merpati di kawasan Muja-Muju, Kecamatan Umbulharjo, Jogjakarta. Kelompok Gono (demikian Margono biasa dipanggil) dan Andi memang tak bernama. Mereka hanya bermain atas dasar hobi yang sama, burung merpati. Di antara mereka, adu merpati memang sekadar permainan “adu gengsi” sesama teman.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Gono, yang mengajak Jogjanews ke rumah Andi untuk menyaksikan cara melatih burung merpati, mengaku sudah sejak kecil memelihara merpati. “Saya sering ke rumah Andi untuk melihat merpati yang saya titipkan sekalian melatih agar bisa diajak templek,” kata Gono, Sabtu (8/8) lalu.
Di rumah Andi, Jogjanews diajak ke lantai. Di tempat ini, ada tempat memelihara burung merpati cukup besar yang berisi 50 lebih burung merpati baik yang masih anakan (Jawa: piyik), enoman, giringan dan petelor atau indukan. Saat itu sang pemilik rumah sedang menebar jagung sebagai makanan utama merpati-merpatinya. Tak beberapa lama kemudian beberapa teman Andi pun datang untuk bersama-sama melatih merpati.
Dilihat dari pola pelatihan dan juga penuturan mereka, kelompok Andi dan kawan-kawan getol melatih merpati aduan untuk adu tinggian.
Adu merpati tinggian ini dibedakan menjadi beberapa jenis seperti tomprangan, kentong dan kolong, dengan nama yang bisa jadi berbeda untuk satu daerah dengan daerah lainnya.
Melatih merpati tinggian, mempunyai tujuan sesuai dengan kriteria yang diperlukan merpati adu tinggian, antara lain:

Baca juga  Peraturan Lomba Merpati Balap Sprint 2013

<ul”>

  • 1. Burung mau dan pasti tebang tinggi sekali dan sampai di rumah tetap tinggi.
  • 2. Mempunyai track cepat (burung terbang dengan kecepatan yang tinggi). Merpati yang mampu terbang dengan ketinggian yang maksimal, biasanya kecepatan burung kurang, dan track burung saat pulang kerumah agak lambat. Oleh karena itu, merpati perlu dilatih
  • agar mempunyai track cepat.
  • 3. Mempunyai mata yang tajam, sehingga saat si jongki mulai mengepakkan pasangannya, merpati yang dilatih mampu mengenali pasanggannya dengan baik.
  • 4. Burung lengket dengan pasangannya ( giring atau templek dengan keras).
  • 5. Burung memiliki keberanian menukik tanpa harus berputar putar atau istilahnya “sekali jadi”.
  • 6. Saat burung menukik gerakan burung tenang (tidak goyang), tembak lurus seperti panah. Burung yang menukik dengan tenang akan memiliki kecepatan yang maksimal dengan “setut” yang sangat kencang.
  • 7. Ketika sampai di lapak burung turun dengan pas, tidak keluar dari lapaknya dan turun di pasangannya.
  • 8. Ketika turun burung juga dilatih tidak terlalu keras karena akan menyebabkan cacat saat menghantam lapak.
  • 9. Memiliki jiwa yang “methilan” (atau mampu meninggalkan lawan saat turun dari awan). Saat ini sulit sekali burung yang mampu terbang dengan ketinggian maksimal, kecepatan tinggi dan punya jiwa “methilan”.
  • 10. Burung memiliki stamina yang bagus.

Menurut Andi, untuk melatih merpati seperti itu dimulai dengan berlatih templek, yakni melatih merpati jantan yang sudah menginjak usia giringan (6-8 bulan). Sebelum usia tersebut, merpati harus sering dilatih terbang agar tulang-tulang sayap kuat untuk terbang tinggi dan lama dan membentuk gaya terbang menurun yang diinginkan.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss…

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis… Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Faktor pelatihan

Baca juga  Penyakit burung merpati dan penanganannya

Seperti hari-hari biasanya. Kelompok pecinta merpati ini melatih momongan mereka dari pukul 16.00 hingga hampir waktu Maghrib. Saat itu, latihan templek untuk burung merpati muda dilakukan Bayu, adik Andi.
Bayu melepas beberapa burung merpati jantan agar terbang setinggi mungkin di angkasa. Karena sudah mengetahui kemampuan berapa jauh dan berapa lama burung-burung yang dilepas itu akan terbang, Bayu tinggal menunggu waktu saja hingga burung-burung tersebut terlihat di angkasa. Setelah muncul, Bayu segera mengepak-ngepakkan merpati betina dengan kedua tangan di atas kepala sebagai “undangan” bagi burung-burung merpati jantan pulang kandang.

Begitu “undangan” merpati betina terlihat, merpati jantan di angkasa segera menukik ke arah merpati betina yang sedang dikepak-kepakkan sayapnya. Begitu cepatnya merpati-merpati jantan melesat turun, suara gesekan sayap dan angin terdengar mendesing. Merpati jantan pun pulang kandang.
“Yang paling dicari pemain merpati adalah cara terbang menurun dari burung tersebut yang bisa membentuk sudut seperti jarum jam pas di angka 12 atau 90 derajat. Itu yang paling bagus,” kata Gono menjelaskan.

Menurut Gono, untuk bisa terbang menurun seperti posisi jarum jam 12 diperlukan burung giringan yang kuat terbang. Biasanya burung-burung merpati giringan yang sudah mahir terbang menurun umurnya sekitar 6-8 bulan. Namun kadang bisa terjadi kemahiran terbang menurun burung merpati giringan tidak tergantung usia, tetapi juga pelatihan.
”Kuncinya harus sering melatih burung merpati untuk bisa terbang sehingga burung tersebut bisa cepat mahir terbang menurun dengan cara yang diinginkan si pemain,” kata Gono seraya menerangkan burung merpati yang sudah bisa diajak main giringan biasanya burung merpati yang sayapnya sudah “ngrampas” atau sudah tidak sebanyak ketika belum menjadi burung giringan.
“Kalau burung merpati yang belum giringan, sayapnya kan banyak. Kalau sering dilatih terbang, biasanya sayap akan lepas satu-satu, tinggal 4-5 sayap saja yang tertinggal. Tapi itulah yang membuat burung itu bisa diajak main giringan karena burung-burung tersebut bisa terbang turun model jam 12,” katanya.
Sebagai sebuah obyek hobi, merpati yang “sudah jadi” memang bisa berharga mahal, sampai jutaan rupiah. Untuk burung “bakalan”, jika memang berkarakter bagus harganya juga sudah mahal. “ Beberapa hari yang lalu, Andi membeli merpati seharga Rp.750.000,00,” kata Gono.
Mau bergabung untuk main merpati model giringan ala Margono dan kawan-kawan? Kontak saja Margono di 085658544008. (The Real Jogja/joe)

</ul”>

Pola terbang merpati balap sprint

Melatih merpati balap sprint harus dengan cara yang benar (sumber foto sripoku.com)

Menyambung tulisan mengenai mencetak burung merpati balap sprint yang saya ambilkan dari Trubus, sekarang   saya akan menuliskan lanjutannya, yakni melatih merpati balap sprint. Hal ini juga sangat penting   karena meski kita punya merpati anakan jawara, kalau dia tidak dibesarkan dalam pelatihan yang baik dan benar, maka mustahil bakal menjadi jawara.

 

PELATIHAN:

Sehari setelah teloran kedua atau sebulan kemudian (baca tulisan di sini), merpati balap sudah bisa berlatih di halaman atau lapangan. Namun bila pasangan betina belum bertelor, disarankan tidak langsung mencoba si jantan berlatih. Karena keduanya pasti belum ngeket.   Jika dipaksa berlatih, si jantan bakal kabur.

Umumnya waktu latihan dipilih sesudah merpati balap dijemur, sekitar pukul 11 siang. Latihan itu dimulai dengan menyiapkan 2 kandang kecil. Msing-masing kandang dipisahkan 5-10 meter. Mauskkan kedua merpati balap ke dalam kandang, Si jantan kemudian dibiarkan lepas sesaat untuk beradaptasi dan kemudian menghampiri betina.

Mintalah salah satu perawat untuk kembali membawa si jantan ke kandang lagi. Si jantan dapat digoda kembali. Caranya kelepakan betina sampai sayapnya mengembang penuh. Jika giring, si jantan akan terbang kembali mendatangi betina. Latihan ini dilakukan 1-2 hari dengan frekuensi 4-5 kali.

Baca juga  Meski 3 kali mengulangi babak semifinal, Juliet juara balap merpati Lakoni Cup Jogja

Bila si jantan semakin giring, biasanya setelah teloran ke-3, jarak terbang ditambah sekitar 20-50 meter. Beberapa penangkar memilih langsung 20-50 meter. Hal ini dapat dilakukan asal si burung cerdas. Latihan ini diberikan selama 3-4 hari dengan frekuensi antara 2-5 kali.

TERBANG LURUS

Tujuan terbang pendek jarak 5-1- meter atau 20-50 meter agar si burung mampu terbang lurus. Bila tidak, si jantan akan terbang ke atas, berputar-putar dulu sebelum hingga di betina.

Cara lain agar peluang burung terbang lurus semakin besar, sang joki perlahan-lahan mundur teratur sampai jarak tertentu. Contoh jarak awal pelepas dan joki 10 meter, saat si jantan mulai dilepas, sang joki sudah berjarak sekitar 15 meter.

Pada latihan itu posisi si joki menangkap burung tidak boleh sembarangan. Ia harus jongkok supaya burung terbiasa terbang lurus dan rendah sekitar 2-3 meter dari tanah. Usahakan merpati ditangkap di tanah bukan hinggap di tangan. Jika sejak awal dilatih ditangkap di tangan dengan posisi si joki berdiri, si merpati akan terbang lebih tinggi lagi. Dampaknya di lomba sang joki akan menangkap merpati dengan cara menjambret atau populer dengan sebutan barongsai.

 

Namun seringkali kesalahan fatal dilakukan oleh joki. Misalnya tangan kiri yang akan menangkap posisinya di atas betina. Akibatnya pandangan si jantan akan terhalang sehingga mengurangi kecepatan terbang. ia terlihat ragu-ragu untuk mendarat. Lebih baik posisi tangan kiri ada di belakang tangan kanan.

Baca juga  7 Poin katuranggan pada merpati balap

POLA TERBANG

Jika merpati mampu terbang lurus, jarak latihan ditambah lagi sampai 200-400 meter. Saat itu karakter burung sudah terlihat. Hal itu tampak saat bertemu lawan tanding. Ia bisa memukul dari atas atau zigzag mengganggu lawan. Ada pula yang cenderung mengusir lawan dengan cara   mengepak sayap. Kebiasaan itu memang sifat bawaan yang tidak bisa dilatih.

Setiap merpati balap memang mempunyai pola terbang yang berbeda. Pola itu berpengaruh pada kecepatan terbang si merpati. Ada 4 pola umum yang dimiliki merpati balap. Namun pemakaian pola ini tergantung sifat bawaan si merpati.

1. Terbang datar lurus ke depan

Pola ini paling disukai joki. Banyak merpati balap handal memiliki cara terbang ini. Kekuatan otot sayap merupakan kuncinya. Ia harus kuat lantaran tridak memanfaatkan gratvitasi bumi sebagai bantuan. Jika otot tidak prima, merpati balap akan kehabisan tenaga dan napas.

2. Terbang menurun kemudian mendatar lurus ke depan

Pola ini menghasilkan kecepatan yang lebih rendah karena perlu waktu untuk menukik sesaat. Cara ini baru efektif dipakai pada lintasan pendek yang mengandalkan keseimbangan badan, reflek sayap dan ekor.

3. Terbang zigzag.

Pola ini jarang dipakai oleh merpati balap lantaran butuh keseimbangan dan refleks tinggi. Cara terbang ini memanfaatkan sudut zigzag untuk memperkecil tekanan angin ketika terbang melawan angin.

4. Terbang melambung dan meluncur ke bawah

Pola ini serupa cara elang memburu mangsa. Tenaga lebih sedikit dikeluarkan. Pasalnya, luncuran awal terbantu oleh gravitasi bumi. Pakem ini mampu mengimbangi terbang datar lurus pada lintasan panjang. Namun tidak efisien pada lintasan pendek lantara ada waktu terbuang ketika melambung.

Cara mencetak Merpati Balap Sprint

Besutan Sri Rama bagaikan anak panah melesat dari busur. Berduel dengan Elang M saat perang bintang, ia begitu perkasa. Menjelang 100 m garis finish, tiba-tiba Sri Rama ngejos (sprint- red) meninggalkan Elang M. Tangan Udin, joki Sri Rama, cukup sigap menangkap jagoannya di atas patik. Burung milik Trisna Wijaya itu jatuh ke pelukan joki asal Madura dan meraih juara.

 

Demikian pengantar buku kecil sisipan Majalah Trubus yang membahas mengenai Panduan Praktis Cetak Merpati Balap Sprint. Berikut ini saya turunkan tulisan tersebut meski di sana-sini saya edit untuk penyesuaian.

Kehandalan Sri Rama patut diacungi jempol. Ia kerap menjadi juara di berbagai lomba merpati balap. Wajar jika burung merpati itu dihargai ratusan juta rupiah. Untuk mendapat burung sekelas Sri Rama memang tidak mudah. Serangkaian syarat harus dipenuhi para calon merpati balap.

Darah tetua pun menentukan prestasi. “Merpati balap juara biasanya menurunkan anakan juara,” ujar Herman Tanubrata pemilik Masa Kini Bird Farm di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Contoh Rencong atau Batavia. Kedua merpati balap yang merajai lomba pada 1995-1998 itu hingga kini keturunannya diincar banyak penangkar merpati balap sprint.

Meski demikian, calon merpati balap dari induk juara pun, jika tidak pernah dilatih mustahil akan menjadi jawara. “Merpati itu seperti olahragawan, kalau tidak dilatih sejak dini, tidak mungkin jadi juara,” kata Trisna Wijaya, penangkar di Cikupa Tangerang.

Cara memilih bakalan merpati balap sprint

Calon indukan merpati balap sprint idealnya tidak terlalu besar. Agar lebih yakin, si calon perlu menjalani tes kelayakan. Ia perlu diraba dari kepala, mata, dada, sayap hingga ekor.

Bentuk kepala yang bagus membulat mirip kepala pesawat terbang. Saat diraba ke arah paruh terasa agak menonjol. Fungsinya mengurangi hambatan terbang karena pengaruh terpaan angin. Angin akan dibuang ke samping kepala sehingga merpati bertambah laju.

Baca juga  Dengar dan download suara gelatik, waterslager, dan spanish timbrado

Pilih calon merpati balap berdada besar membentuk bidang segitiga. Tujuannya agar kemampuan menyimpan oksigen selama terbang tinggi. Pasalnya oksigen itu mengurangi asam laktat penyebab kelelahan otot.

Tulang pembentuk dada pun harus bulat melengkung ke arah kloaka (anus). Ketika diraba, otot di sekeliling tulang terasa halus agak lembek. Tetapi mendekati kloaka, otot sumpit (kandung kemih) keras dan lurus.

Organ gerak paling penting adalah sayap. Setiap calon merpati balap harus memiliki otot pangkal sayap kuat agar kepakan semakin cepat. Idealnya, otot pangkal sayap ketika diraba kenyal, elastis dan padat sehingga burung tak cepat lelah ketika terbang.

Bulu merupakan bagian terpenting dari sayap. Setiap burung umumnya ditutupi buku. Ia terbagi menjadi 3 bagian, yakni bulu penutup sayap, sekunder, dan primer. Tetapi pada merpati balap, justru bulu primer penentu laik tidaknya sang burung untuk berpacu.

Bulu primer berfungsi sebagai penyeimbang dan alat rem sewaktu mendarat. Ia berjumlah 10 helai. Saat dibentangkan, posisi ke-10 bulu itu harus rapat, beraturan dan serasi. Semakin ke ujung sayap, ukurannya membesar. Tulang bulu harus tebal, bulat, lentur, agak melengkung dan tidak kaku. Secara alami sehelai bulu akan rontok setiap bulan.

Dalam lomba, jarak pandang sang jantan pada betina kelepekan menentukan hasil akhir. Semakin kepakan betina terlihat, makin cepat sang jantan melakukan sprint. Oleh karena itu lingkaran pupil di mata harus bisa membesar dan mengecil untuk mengukur jarak.

Warna mata juga member indikasi kecepatan terbang. Merpati balap memiliki warna mata lebih merah. “Ia terlihat garang dan sadis. Semua merpati balap juara mempunyai warna mata itu seperti Sri Rama atau Millenium,” papar Udin, perawat di Sampoerna Bird Farm.

Baca juga  20 Tahun Posmeti Pulomas: Ini nih tempat berkumpulnya jawara merpati tinggian

Penjodohan merpati balap sprint

Langkah awal melatih merpati balap adalah menjodohkan. Pasalnya merpati balap identik dengan adu napsu. Semakin bernapsu si jantan menguber pasangan betina alias ngeket atau giring, maka makin cepatlah laju terbangnya.

Pejantan dapat dijodohkan 3-4 bulan sejak lahir. Penjodohan itu dimulai dengan memasukan pejantan ke kandang utama ukuran 1,5 x 1,5 x 2 meter. Kandang itu dilengkap sebuah kandang kecil (gupon atau pagupon- Jawa) untuk istirahat. Biarkan si jantan selama sehari untuk adaptasi. Menginjak hari ke-2, beberapa betina dimasukkan bergantian selama setengah hari. Usahakan betina matang kelamin yang dipilih.

Tanda jodoh terlihat bila keduanya saling mengeluarkan bunyi untuk merayu (bekur – Jawa). Bulu si jantan akan mekar, mengkilap, dan terlihat indah . Gayung bersambut, si betina pun akan menggut-manggut tanda kepincut. Setelah jodoh, biarkan keduanya untuk kawin.

 

Namun kendala acap kali muncul ketika penjodohan merpati balap sprint. Si jantan tampak ogah-ogahan kawin. Masalah itu bisa diatasi dengan memilih betina berbulu serupa baby sitter pejantan. Contoh baby sitter berbulu kelabu maka betina pun harus kelabu lantaran insting si jantan akan terus mengingat perawatnya dulu. Hasilnya pun akan lebih baik.

“Daya giring si jantan lebih bagus ketimbang diberi warna lain,” kata Herman Tanubrata, Sekjen PPMBSI.

Selain warna, umur ikut andil saat menjodohkan. Idealnya, betina seumur atau lebih muda yang dipasangkan. Tujuannya agar betina dapat dipakai sebagai kelepekan lebih lama. Namun ada penangkar merpati balap lain yang suka memasangkan jantan dengan betina yang sudah kawin. Maksudnya agar si jantan cepat birahi.

Tdak semua pejantan mau begitu saja disandingkan dengan betina yang sudah kawin. Apalagi pejantan muda, pasti menolak. Tandanya dia akan mematuk dan menguber si betina.

Cara mengatasinya, pisahkan keduanya selama 1-2 minggu. Jika sudah birahi baru dijodohkan kembali. Tanda kawin terlihat bila keduanya mulai mencumbu rayu.

Baca juga  Gudang download artikel Burung Bagian I

Merpati balap sejodoh bisa kawin 2-4 kali sehari. Seminggu setelah kawin, betina biasanya bertelor 2-3 butir selama 3 hari berturut-turut. Telur itu dicabut (dibuang) lantaran ia tidak akan dierami. JIka anakannya akan diambil, penangkar memilih mengawinkan si jantan dengan betina berdarah juara.

Antara 4 sampai 6 hari setelah teloran pertama itu, pasangan merpati biasanya terlihat ngeket atau giring. Tetapi untuk memastikan si jantan sangat ngeket, coba didekatkan betina ke pejantan lain. Jika tiba-tiba si jantan pasangan nguber atau blingsatan tanda cemburu, bebari dia sudah benar-benar ngeket atau giring